Senin, 01 Oktober 2012

Thank God

Tuhan tau kalau gue gak pernah komplen soal kondisi Grace. I suer, I realize so much that she’s a bless for us. Gue sadar dengan sepenuh hati dan pikiran kalau Tuhan pasti punya rancangan yang indah buat gue dan keluarga gue dengan kondisi Grace ini.

Di usianya yang semakin bertambah, lasaknya itu luar biasa  (lasak itu bahasa batak loh sebenarnya, yang artinya seperti pecicilan dan gak bisa diam, hehehe). That's my lil’ girl now. Dia aktif dan adventurer sejati, lincahnya mengingatkan pada si Kakak 13 tahun yang lalu. Gayanya sama banget bow, hoby jalan kemana aja tanpa tau arah sekalipun, gak ada takutnya, slonong boy dan supel banget. Sedikit bedanya adalah, baby Jane was (was-nya harus gue perjelas nih... yang artinya duluuuu) ramah banget, hangat dan friendly. Bahkan sama anak-anak yang paling onar sekalipun. She was belong to all kind of people .

Sedangkan Grace --yang menurut gue dan suami-- ini lebih disebabkan oleh ‘keterbatasanya’ dalam memahami komunikasi, so dia terbiasa hidup dengan ‘dunianya’ sendiri, cara dia dan ‘setahu’ dia saja. She a little bit naughty and a good striker (dalam arti yang sesungguhnya ya, kwkwkw).

Sore itu, sejak 3 minggu yang lalu air kami kekeringan. Gue akan numpang mandi di rumah mama. Hari itu, gue emang lumayan sibuk, pagi ikutan pilkada Jakarta, siang antar Grace therapy dan menjelang petang latihan Gereja. Makanya mandi malam-malam sebenarnya bukan kewajiban lagi buat Grace.  Berhubung diapersnya terlihat kotor, gue milih untuk memandikan Grace juga.

 Dengan gaya gue yang biasa, ngebut dan ribet alias kebanyakan persiapan sebelum mandi. Gue manaruh Grace cepat-cepat di kamar mandi, sambil nyari-nyari kantong kresek buat tempat sampah diapers. Beberapa detik kemudian, gue masih nyengir kuda waktu tau kalau  Grace ‘mengunci diri” dikamar mandi. Dengan kondisi bak mandi penuh air, dan kalau dia naik dari WC kepalanya bakal super gampang nyemplung ke bak mandi sedalam 1M-an.

Rasa panic cepat menampar kesadaran gue, itu bukan hal lucu sama sekali. Segera gue gedor pintu kamar mandi dengan galak, berulang-ulang dan terus. Beberapa saudara dan tetangga mulai terpancing datang. Suaranya emang gue buat segaduh mungkin. Kemudian suami gue datang dengan sedikit sesal karena ‘keteledoran’ gue. Rencana mendobrak pintu aluminium bukan pilihan cerdas sama sekali. Kita terus menggedor pintu dengan suara bising, padahal kita tau itu sia-sia karena Grace emang tidak bisa mendengar. Grace memang tidak bisa mendengar “sekedar” suara gedor-gedoran.  Gue tampar-tampar kaca kamar mandi yang buram, berharap dia ‘ngeh’ dan kemudian menengok ke atas.

Hampir 5 menit kita mendobrak-dobrak pintu, dan belum terdengar suara sama sekali. Mama gue tiba-tiba berseru dengan ide, “matikan lampu.” Dan tek, sedetik kemudian lampu kamar mandi mati. Mulai terdengar erangan kecil tapi jelas Grace belum geming dari posisinya. Karena samar-samar lampu dapur masih bisa bikin dia lupa diri. Lampu dapur dipadamkan, barulah area kamar mandi  menjadi gulita. Sesaat kemudian detak jantung gue seperti berdetak lagi.

Suara Grace semakin jelas, suaranya yang takut gelap membuat beberapa kita menghela napas lega. Beberapa saat kamudian pintu kamar mandi terbuka, wajahnya ceria dan tetap sumringah.
Situasi ini berakahir dengan happy ending. Tapi sumpah... sepanjang malam, detik-detik mencekam 5 menit itu begitu membekas dihari dan hati gue. Dalam sesaat itu gue sempat merasa marah sama Tuhan, merasa tolol dengan kelalaian gue.  Mendadak gue merasa marah dan kecewa sangat dengan kondisi Graca, gue marah pada nasib. Gue seperti mendengar kalau takdir tertawa jahat dengan kondisi gue. Fuiiihhh,,,

Kemudian dalam segala kegamangan gue tetap memaksa diri untuk bilang, “thank God”. Karena ketika pintu kamar mandi terbuka, kami melihat kalau air 1 baik itu penuh dengan kotoran sabun mandi, totally kotor “dimainkan” bukan sekedar di masukin sabun. Then, what can I say beside,, “thank God.”