Tuhan
tau kalau gue gak pernah komplen soal kondisi Grace. I suer, I realize so much that she’s a bless for us. Gue sadar dengan
sepenuh hati dan pikiran kalau Tuhan pasti punya rancangan yang indah buat gue
dan keluarga gue dengan kondisi Grace ini.
Di
usianya yang semakin bertambah, lasaknya itu luar biasa (lasak itu bahasa batak loh sebenarnya, yang
artinya seperti pecicilan dan gak bisa diam, hehehe). That's my lil’ girl now. Dia aktif dan adventurer sejati, lincahnya
mengingatkan pada si Kakak 13 tahun yang lalu. Gayanya sama banget bow, hoby
jalan kemana aja tanpa tau arah sekalipun, gak ada takutnya, slonong boy dan supel banget. Sedikit bedanya
adalah, baby Jane was (was-nya
harus gue perjelas nih... yang artinya duluuuu) ramah banget, hangat dan friendly. Bahkan sama anak-anak yang
paling onar sekalipun. She was belong to
all kind of people .
Sedangkan
Grace --yang menurut gue dan suami-- ini lebih disebabkan oleh ‘keterbatasanya’
dalam memahami komunikasi, so dia terbiasa
hidup dengan ‘dunianya’ sendiri, cara dia dan ‘setahu’ dia saja. She a little bit naughty and a good striker
(dalam arti yang sesungguhnya ya, kwkwkw).
Sore
itu, sejak 3 minggu yang lalu air kami kekeringan. Gue akan numpang mandi di
rumah mama. Hari itu, gue emang lumayan sibuk, pagi ikutan pilkada Jakarta,
siang antar Grace therapy dan menjelang petang latihan Gereja. Makanya mandi
malam-malam sebenarnya bukan kewajiban lagi buat Grace. Berhubung diapersnya terlihat kotor, gue milih
untuk memandikan Grace juga.
Dengan gaya gue yang biasa, ngebut dan ribet
alias kebanyakan persiapan sebelum mandi. Gue manaruh Grace cepat-cepat di
kamar mandi, sambil nyari-nyari kantong kresek buat tempat sampah diapers. Beberapa
detik kemudian, gue masih nyengir kuda waktu tau kalau Grace ‘mengunci diri” dikamar mandi. Dengan
kondisi bak mandi penuh air, dan kalau dia naik dari WC kepalanya bakal super
gampang nyemplung ke bak mandi sedalam 1M-an.
Rasa
panic cepat menampar kesadaran gue, itu bukan hal lucu sama sekali. Segera gue
gedor pintu kamar mandi dengan galak, berulang-ulang dan terus. Beberapa
saudara dan tetangga mulai terpancing datang. Suaranya emang gue buat segaduh
mungkin. Kemudian suami gue datang dengan sedikit sesal karena ‘keteledoran’
gue. Rencana mendobrak pintu aluminium bukan pilihan cerdas sama sekali. Kita
terus menggedor pintu dengan suara bising, padahal kita tau itu sia-sia karena
Grace emang tidak bisa mendengar. Grace memang tidak bisa mendengar “sekedar”
suara gedor-gedoran. Gue tampar-tampar
kaca kamar mandi yang buram, berharap dia ‘ngeh’ dan kemudian menengok ke atas.
Hampir
5 menit kita mendobrak-dobrak pintu, dan belum terdengar suara sama sekali.
Mama gue tiba-tiba berseru dengan ide, “matikan lampu.” Dan tek, sedetik kemudian
lampu kamar mandi mati. Mulai terdengar erangan kecil tapi jelas Grace belum geming
dari posisinya. Karena samar-samar lampu dapur masih bisa bikin dia lupa diri. Lampu
dapur dipadamkan, barulah area kamar mandi menjadi gulita. Sesaat kemudian detak jantung
gue seperti berdetak lagi.
Suara Grace semakin jelas, suaranya yang takut gelap membuat beberapa kita menghela napas lega. Beberapa saat kamudian pintu kamar mandi terbuka, wajahnya ceria dan tetap sumringah.
Situasi
ini berakahir dengan happy ending. Tapi
sumpah... sepanjang malam, detik-detik mencekam 5 menit itu begitu membekas
dihari dan hati gue. Dalam sesaat itu gue sempat merasa marah sama Tuhan,
merasa tolol dengan kelalaian gue. Mendadak gue merasa marah dan kecewa sangat
dengan kondisi Graca, gue marah pada nasib. Gue seperti mendengar kalau takdir
tertawa jahat dengan kondisi gue. Fuiiihhh,,,
Kemudian
dalam segala kegamangan gue tetap memaksa diri untuk bilang, “thank God”. Karena ketika pintu kamar
mandi terbuka, kami melihat kalau air 1 baik itu penuh dengan kotoran sabun
mandi, totally kotor “dimainkan”
bukan sekedar di masukin sabun. Then,
what can I say beside,, “thank God.”