Selasa, 11 Juni 2013

I am not okey, but I am fine




Bunyi dengingan itu menguat, alat bantu dengar Grace memang akan menimbulkan suara denging yang lumayan menganggu jika dia tidak “klik” terpasang ditelinga. Bayi kecilku pun sudah tidak lagi se-imut dan se-kaku pertama kali dia memakai ABD (Alat Bantu Dengar), sekarang  dia sudah mengerti cara mematikannya jika sedang dalam mood buruknya. Kalau pertama kali berkenalan dengan alat tersebut hal paling ampuh yang  dilakukanya adalah “mengancam,” dengan kedua tangan tersigap ditelinga dan siap merabas ABD tersebut. Sekarang dia sudah lebih pintar, dia sudah tau cara mematikan ABD tersebut. Yups, terlihat menempel tapi dia tidak mau mendengar apa-apa… :)
 
Kepalaku berdenging hebat dan sering hampir setahun yang lalu, bangun pagi jadi kegiatan menyiksa dan pastinya ironi yang harus aku lawan. Jam kerjaku memang memaksaku untuk bangun pagi, sebelum matahari menyembul hangat, aku sudah harus keluar dari perumahan becek kampong kami.

Aku sedikit merenung, setahun belakangan ini nyaris kepalaku tidak lagi berdenging, hmm.. terasa aneh, padahal menurut sebagian (atau banyak orang kah??)??? Aku makin terlihat tidak terkontrol, aku semakin mudah tersulut dan sering tidak koperatif. Ops, fuihhhh, aku menghela napas dalam-dalam. Kembali ada ironi... hmmm, aku memutar bolamata sambil berpikir, memaksa diri untuk tersenyum.

Lebih setahun lalu, setiap minggu aku mengalami kesakitan dikepala, dimana dunia terasa berputar. Adegan membuka kelopak mata saja terasa menyiksa, mengangkat kepala dari batal terasa berat dan harus super hati-hati. Belakangan aku tau kalau iniiah yang namanya vertigo, kondisi dimana dunia pijakan sekakan berputar cepat, membuat kepala terasa memberat dan memaksa isu perut seperti mau tumpah. Dan semua bahkan sudah diawali dari membuka mata dipagi hari, arghh…

Waktu itu aku bekerja sendiri, disebuah department baru ciptaan Perusahaan bagus kami, hehehe. Pertama-tama semuanya terasa menantang dan memaksa-ku harus untuk cepat untuk mengerti dan mengambil keputusan, tapi seiring waktu berjalan tantangan itu makin habis, pekerjaan itu semakin sedikit dan kenyamanan mulai menghampiriku, hmm.. kemudian kenyamanan itu menganggu, lalu ketenangan itu sangat menganggu. Lalu kepalaku mulai terasa tidak berkoperatif, kenyamanan, kesantaian bahkan terasa seperti gaji buta ini nyaris membunuhku pelan-pelan. Hampir tiap minggu aku harus bolak-alik ke doter meminta obat pereda rasa sakit. Vertigo ini makin sering, seiring pekerjaanku yang semakin santai apalagi menjelang akhir tahun. All I do is just waiting. Sampai akhirnya kejenuhan ini −yang tanpa perhitungan− ini membawaku menghadap ibu HR dan ‘meminta’ pekerjaan tambahan.

 
Tepat setahun lalu, tawaran itu datang. Kesibukan mulai menghampiri, pekerjaan mulai menganggu, dan ketegangan itu akhirnya merayap pelan tapi pasti. Aku masuk hari senin, dan orang terdahulu hengkang hari jumat. Tanpa bimbingan, tanpa pelajaran, tanpa training bahkan sedikit plolog dimana awal dimana akhir, dimana posisiku-pun  pun tidak aku dapati. Aku mulai menyuapi diri dengan ilmu yang sama sekali, enggg tidak sama sekali juga sih, tapi kebanyakan masih sangat baru dan asing bagiku. Idealisme ku yang bekas pramuka –selalu mengangap senior pasti pintar dan ‘lebih’ banyak− mulai membawaku dalam kekesalan sendiri.

Bulan-bulan awal aku masih menahan diri dengan sejuta tanya dan cara yang tidak biasa ini, yupss,, the times gonna comes running batinku. Enam bulan dalam jajahan structural yang tidak jelas, job desk yang gamang dan kacau masih kupaksakan menelan ludah dengan pahit. Tapi posisiku sangat tidak nyaman.
Sadar tidak sadar intonasiku mulai menunjukan kalau aku merasa ditempat yang antah-berantah,, taela dramatis ajja.. hohoho..

Aku sekolah SMEA dulu, jadi 5 hal yang paling utama bagi manusia sudah jadi sarapan kami di mata pelajaran manajeman, kesekretarisan dan ilmu-ilmu kejuruan itu. Salah satu ilmu pak Siagian itu (hanya nama beliau yang cukup aku ingat :D) adalah rasa ingin dihargai sebagai manusia. Sebagai ABG sok independen dan menjurus ke cuek, 15-16 tahun yang lalu aku mengaggap ilmu itu TIDAK PENTING SAMA SEKALI. Pengajaran ‘ingin dihargai’ itu adalah sikap kekanakan yang hanya dimilik ‘sebagaian’ manusia-manusia cengeng. And I am not that one :0. Satu tahun di LPK kesekretarisan kembali aku menerima ilmu ‘bandrol’  itu. Yeah, aku selalu meledek kalau orang mau dihargai ya bandrol aja.. hehe.

Sepi ditengah keramaian, melakukan pekerjaan lemparan tapi sering jadi kambing hitam, mencari jawab atas ‘warisan’ pertanyaan di tahun-tahun kemarin yang tidak bisa dijelaskan atau banyak pertanyaan yang perlu di brain storming dalam waktu beberapa lama tapi sikon memaksaku harus siap dalam hitungan menit bahkan detik. Semuanya membuat jiwa lama-ku terpancing keluar.

Jika setahun yang lalu jam berangkat kerja terasa berat karena membayangkan kenyamanan yang menjemukan kemudian melahirkan vertigo. Sekarang setiap pagi kepalaku penuh dengan perhitungan dan ketakutan, pekerjaan tanpa training apa yang akan ‘dilempar’ nantinya, bagian salah mana yang akan disampirkan dibahuku nanti. Yes, I felt that  :(.  Rasanya sama-sama tidak menyenangkan, jika vertigo meyiksa fisik maka sekarang lebih ke cape hati.

Yes, mereka bilang (sepertinya) aku stress dengan pekerjaan, kaget dengan tekanan, tidak bisa bersosialisasi, tidak siap bersaing. Hmm, teringat status teman di sebuah jejaring social “orang yang iklas adalah orang yang sayang pada tubuhnya karena iklas itu menyehatkan…

What can I say, kenyataanya aku tidak bisa iklas mejalankan hari-hari too much jobless tapi bergaji. I am vertigo on my best wasting time. Yes, Now I look stress and shout a lot but I am very fine. Because it’s not because of the job, it’s not because of I am afraid of challenge.  I am not looking for gain in work, I am willing to learn, I just need space to ask and answer, I am looking for place where they realize that I am exist. Perjalanan mengajarkan atau menyadarkan tepatnya, bahwa aku bagian dari orang-orang cengeng itu, bahwa siapapun manusia didunia ingin dihargai dan ini bukan masalah harga diri semata, ini soal keyakinan diri dan rasa dimanusiakan. Ohhh,, #sambil ambil tissue, hehehe

Ah, kadang aku berandai-andai jika saja aku bisa seperti Grace… tidak perduli betapa menganggunya denging itu buat orang lain, senang jika bisa mengatur kapan aku mau mendengar kapan aku mau menutup telinga dari kebisingan sekitar,,,