Bunyi
dengingan itu menguat, alat bantu dengar Grace memang akan menimbulkan suara
denging yang lumayan menganggu jika dia tidak “klik” terpasang ditelinga. Bayi
kecilku pun sudah tidak lagi se-imut dan se-kaku pertama kali dia memakai ABD
(Alat Bantu Dengar), sekarang dia sudah
mengerti cara mematikannya jika sedang dalam mood buruknya. Kalau pertama kali
berkenalan dengan alat tersebut hal paling ampuh yang dilakukanya adalah “mengancam,” dengan kedua
tangan tersigap ditelinga dan siap merabas ABD tersebut. Sekarang dia sudah
lebih pintar, dia sudah tau cara mematikan ABD tersebut. Yups, terlihat
menempel tapi dia tidak mau mendengar apa-apa… :)
Kepalaku
berdenging hebat dan sering hampir setahun yang lalu, bangun pagi jadi kegiatan
menyiksa dan pastinya ironi yang harus aku lawan. Jam kerjaku memang memaksaku
untuk bangun pagi, sebelum matahari menyembul hangat, aku sudah harus keluar
dari perumahan becek kampong kami.
Aku
sedikit merenung, setahun belakangan ini nyaris kepalaku tidak lagi berdenging,
hmm.. terasa aneh, padahal menurut sebagian (atau banyak orang kah??)??? Aku makin
terlihat tidak terkontrol, aku semakin mudah tersulut dan sering tidak
koperatif. Ops, fuihhhh, aku menghela napas dalam-dalam. Kembali ada ironi...
hmmm, aku memutar bolamata sambil berpikir, memaksa diri untuk tersenyum.
Lebih
setahun lalu, setiap minggu aku mengalami kesakitan dikepala, dimana dunia
terasa berputar. Adegan membuka kelopak mata saja terasa menyiksa, mengangkat
kepala dari batal terasa berat dan harus super hati-hati. Belakangan aku tau
kalau iniiah yang namanya vertigo, kondisi dimana dunia pijakan sekakan
berputar cepat, membuat kepala terasa memberat dan memaksa isu perut seperti mau
tumpah. Dan semua bahkan sudah diawali dari membuka mata dipagi hari, arghh…
Waktu
itu aku bekerja sendiri, disebuah department baru ciptaan Perusahaan bagus
kami, hehehe. Pertama-tama semuanya terasa menantang dan memaksa-ku harus untuk
cepat untuk mengerti dan mengambil keputusan, tapi seiring waktu berjalan
tantangan itu makin habis, pekerjaan itu semakin sedikit dan kenyamanan mulai menghampiriku,
hmm.. kemudian kenyamanan itu menganggu, lalu ketenangan itu sangat menganggu. Lalu
kepalaku mulai terasa tidak berkoperatif, kenyamanan, kesantaian bahkan terasa
seperti gaji buta ini nyaris membunuhku pelan-pelan. Hampir tiap minggu aku
harus bolak-alik ke doter meminta obat pereda rasa sakit. Vertigo ini makin
sering, seiring pekerjaanku yang semakin santai apalagi menjelang akhir tahun. All I do is just waiting. Sampai akhirnya
kejenuhan ini −yang tanpa perhitungan− ini membawaku menghadap ibu HR dan ‘meminta’
pekerjaan tambahan.
Tepat
setahun lalu, tawaran itu datang. Kesibukan mulai menghampiri, pekerjaan mulai
menganggu, dan ketegangan itu akhirnya merayap pelan tapi pasti. Aku masuk hari
senin, dan orang terdahulu hengkang hari jumat. Tanpa bimbingan, tanpa
pelajaran, tanpa training bahkan sedikit plolog dimana awal dimana akhir,
dimana posisiku-pun pun tidak aku dapati.
Aku mulai menyuapi diri dengan ilmu yang sama sekali, enggg tidak sama sekali juga sih, tapi kebanyakan masih sangat baru
dan asing bagiku. Idealisme ku yang bekas pramuka –selalu mengangap senior
pasti pintar dan ‘lebih’ banyak− mulai membawaku dalam kekesalan sendiri.
Bulan-bulan
awal aku masih menahan diri dengan sejuta tanya dan cara yang tidak biasa ini,
yupss,, the times gonna comes running
batinku. Enam bulan dalam jajahan structural yang tidak jelas, job desk yang gamang dan kacau masih
kupaksakan menelan ludah dengan pahit. Tapi posisiku sangat tidak nyaman.
Sadar
tidak sadar intonasiku mulai menunjukan kalau aku merasa ditempat yang
antah-berantah,, taela dramatis ajja.. hohoho..
Aku
sekolah SMEA dulu, jadi 5 hal yang paling utama bagi manusia sudah jadi sarapan
kami di mata pelajaran manajeman, kesekretarisan dan ilmu-ilmu kejuruan itu. Salah
satu ilmu pak Siagian itu (hanya nama beliau yang cukup aku ingat :D) adalah
rasa ingin
dihargai sebagai manusia. Sebagai ABG sok independen dan menjurus ke cuek, 15-16 tahun yang lalu aku
mengaggap ilmu itu TIDAK PENTING SAMA SEKALI. Pengajaran ‘ingin dihargai’ itu
adalah sikap kekanakan yang hanya dimilik ‘sebagaian’ manusia-manusia cengeng. And I am not that one :0. Satu tahun di
LPK kesekretarisan kembali aku menerima ilmu ‘bandrol’ itu. Yeah, aku selalu meledek kalau orang mau
dihargai ya bandrol aja.. hehe.
Sepi
ditengah keramaian, melakukan pekerjaan lemparan tapi sering jadi kambing
hitam, mencari jawab atas ‘warisan’ pertanyaan di tahun-tahun kemarin yang
tidak bisa dijelaskan atau banyak pertanyaan yang perlu di brain storming dalam waktu beberapa lama tapi sikon memaksaku harus
siap dalam hitungan menit bahkan detik. Semuanya membuat jiwa lama-ku
terpancing keluar.
Jika
setahun yang lalu jam berangkat kerja terasa berat karena membayangkan
kenyamanan yang menjemukan kemudian melahirkan vertigo. Sekarang setiap pagi
kepalaku penuh dengan perhitungan dan ketakutan, pekerjaan tanpa training apa yang akan ‘dilempar’
nantinya, bagian salah mana yang akan disampirkan dibahuku nanti. Yes, I felt that :(. Rasanya sama-sama tidak menyenangkan, jika
vertigo meyiksa fisik maka sekarang lebih ke cape hati.
Yes,
mereka bilang (sepertinya) aku stress
dengan pekerjaan, kaget dengan tekanan, tidak bisa bersosialisasi, tidak siap
bersaing. Hmm, teringat status teman di sebuah jejaring social “orang
yang iklas adalah orang yang sayang pada tubuhnya karena iklas itu menyehatkan…”
What can I say, kenyataanya
aku tidak bisa iklas mejalankan hari-hari too
much jobless tapi bergaji. I am
vertigo on my best wasting time. Yes,
Now I look stress and shout a lot but I am
very fine. Because it’s not because of the job, it’s not because of I am afraid
of challenge. I am not looking for gain
in work, I am willing to learn, I just need space to ask and answer, I am looking
for place where they realize that I am exist. Perjalanan mengajarkan atau
menyadarkan tepatnya, bahwa aku bagian dari orang-orang cengeng itu, bahwa
siapapun manusia didunia ingin dihargai dan ini bukan masalah harga diri
semata, ini soal keyakinan diri dan rasa dimanusiakan. Ohhh,, #sambil ambil
tissue, hehehe
Ah,
kadang aku berandai-andai jika saja aku bisa seperti Grace… tidak perduli betapa
menganggunya denging itu buat orang lain, senang jika bisa mengatur kapan aku
mau mendengar kapan aku mau menutup telinga dari kebisingan sekitar,,,
