Rabu, 25 Juni 2014

Story of my train (part II)




Pelajaran selanjutnya yang gue dapat dari Kereta Api, oh ya lupa cerita... sekarang KA lokal disebut commuterline, dan gue engga paham kenapa dan artinya apa?. Jaman dahulu kala yang gue tau KRD dan KRL, bedanya juga baru tau di kemudian hari  setelah gue merit, dikasih tau misua.

Sejak hari pertama naik KA gue memang tidak mempersiapkan diri untuk shock atau sekedar terpana. Gue langsung  membaca dan sigap dengan sikonnya. Yeah gak sejago itu juga sih, hehehe. Ada moment beberapa saat yang gue merhatiin cara-cara orang ‘menyusup’ dengan sopan kedalam kepadatan manusia didalam gerbong. Dan intinya semuanya begitu kondisional dan situasional, aiiihh... bahasa gue, Hahaha.

Ada satu hal yang sudah lamaaaa banget agak mengusik pikiran gue, orang-orang pasti akan menyebut ini neg-think-nya gue, tapi jujur banget ya rasa ‘terganggu’ dari sikap beberapa teman perempuan  itu sudah lama gue rasakan, tapi gue engga mengerti mengistilahkan-nya. Belajar dari kisah per-Kereta Apian akhirnya terjawablah penasaran gue soal karakteristik perempuan secara naluriah. Sesungguhnya perempuan itu kompetitif banget (istilah ini gue jiplak dari  temen), karena bahasa gue pada mulanya dengan karakteristik perempuan-perempuan yang gue kenal seperti ini adalah "munafik, rempong dan tengil". Ternyata perempuan itu mainstream dan kompetitif abiss.

Cewe tuh langsung gerah kalau liat cewe lain nyaman, cewe cepet emosian kalau ada cewe lain yang kelihatan berhasil (semua yang gue bahas masih soal per-KA ya), dan mereka tegaan juga lho, terlebih  sama sesama cewe. Sesungguhnya kasus Dinda itu hanya potongan kecil dari  kekompetitipan kaum perempuan pada sesamanya. Kalau banyak orang yang ‘hanya’ menyalahkan si Dinda, gue sih menyalahkan juga perempuan-perempuan yang ‘sependapat’ sama si Dinda ini. Gila yaks... tega sama sesama perempuan, dan lebih tega lagi perempuan yang mendukung perempuan lain untuk tega...  ;-(



Begini cerita gue soal gerbong perempuan, gue dah pernah describe bagaimana kepadatan gerbong KA ini dijam pagi, dari Bekasi ke Manggarai memang sudah padat (only miracle will make me got seat ;p). Secara arah gue ke Cideng, maka gue akan naik KA yang lewat Sudirman. Tau dong kalau Sudirman dan Kuningan ini merupakan jantung perkantoran Jakarta? So kebayang berapa puluh manusia yg mau naik bersama-sama penumpang yang menuju Tanah Abang? Puluhan? salahhh,,, yang bener berapa juta, imagine manusia dari Bekasi, dari Bogor, Depok juga Tangerang, most of  people will point at Sudirman.

Maka gerbong  KA yang sudah padat dari Depok or Bogor itu akan dikeroyok oleh kami di stasiun Manggarai. Space gerbong yang  (pantesnya) cuma ditambahi oleh puluhan orang akan  dikerubutin oleh ratusan orang. It’s totally so crowdy.

Sumpah gue engga pernah nyesal atau mengasihi diri dengan kepadatan ini. Tahun 2005-2010 gue gawe di luar Jakarta yang ada jemputan Kijang di pick up point yang tidak jauh dari rumah gue. Di 2011-2013 kembali gue gawe dikisaran Bekasi pinggiran yang ada jemputan juga. Walau titik jemputan tidak sedekat yang sebelumnya, tapi for absoloutely ini bukan jarak yang ‘ganggu’ koq. Tidak lama kemudian bus ini di konversi ke mobil yang lebih kecil. Initinya tidak ada ‘kesalahan’ sama sekali soal transportasi kerja gue sebelumnya, malah bisa dibilang sangat nyaman.

Tapi entah kenapa, gue koq engga pernah tuh yang namanya tidur di jemputan. Ya okey, pasti pernahlah sesekali, entah itu karena bete, sakit atau ngantuk berat. Tapi most of all, gue tidak sebegitu “menikmati” perjalan ini sebagai perpanjangan tidur. None in this 8 years. Buat gue kerja itu yang dinikmatin ya kerjaanya, lingkunganya dan lingkungannya (lagi). Gue tipikal yang milih ngobrol sama siapa yang terjaga selama perjalanan ketimbang tidur. Entah itu jatuhnya jadi curcol, gosip, rumpi, whatever, yang pasti bukan fitnah ya. Makanya gue akrab sama beberapa supir kantor, bahkan sampai hari ini.  Nah waktu pakai bus, gue menghabiskan waktu si 30-45 menit ini buat baca-baca buku atau gadget.

Makanya naik KA walaupun secara kenyamanan bagai langit dan bumi (istilah suami gue tuh..) engga sehancur itu juga sih menurut gue. Perjalanan pendek yang penuh sesak dan perjuangan ini malah berfilosofi banget buat gue. Which is:  kesusahan itu sebentar banget koq,  engga usah dinikmatin juga, dan setiap perjalanan pasti  punya ceritanya sendiri. What doesn’t  kill you will makes you strongger, and i felt  it.  ;-)  Jyaaaa...

Pengalaman pahit digerbong perempuan engga bisa dibilang sedikit, walau tidak setiap hari. Tapi kebanyakan kalau kita mendesak ke gerbong perempuan, mereka mau loh dorong balik kita yg lagi berjuang masuk kedalam KA, ada juga yg keukehh pegangan sama tiang/bandulan asal gak move on. Pokoknya digerbong perempuan kalau sudah agak padat kita pasti susah masuk. Ada aja sih beberapa perempuan baik dan ngasih kesempatan masuk (dan gue tipikal yang seperti ini juga) “dorong aja mba, bisa koq.” Tapi bagaimana bisa kalu yang baik less than sepersekian persen dari perempuan yang ada didalem itu. Percuma kecuali kalau mau ngotot balik!!!

Bahkan pernah di gerbong perempuan, kita gak dikasih masuk. Ceritanya begini, di stasiun Manggarai KA dari Tanah Abang baru saja tiba waktu KA jurusan Bekasi tutup pintu, maka berlarilah kami para pemburu pulang dengan semangat 45 dan kami berhasil. Mulailah kami mengedor-gedor pintu (kek angkot gitu deh, hahaha) didalam tampak wajah-wajah perempuan bengis dan sinis karena kelakuan kita. Demi langit dan bumi, komposisi gerbong bisa di bilang kosong-song-song, dimasukin manusia sebanyak 4 gerbong lagi juga pasti bisa masuk deh, setelah masinis ngebukain pintu masuklah kami seperti air mampet yang tetibaan tercurah. Sambutan pertama adalah ocehan-ocehan sadis para pempuan kece-kece itu, belum bentuk pertahanan body mereka seolah-olah KA gak muat dimasukin lagi. Buat gue itu kejam banget.

Posisi yang padat, sumpek tidak jarang saking padatnya bulu mata bisa nyolok mata orang. Serius deh, paling nyebelin kalau ketemu perempuan-perempuan ‘sok’ cantik yang kelihatan kesel kalau rambutnya kesentuh atau bodinya kesenggol. Sumpah, mau gue tabok aja rasanya. Tiap episode masuk tuh alurnya akan selalu sama (waktu gerbong padat ), otomatis yang didalam KA akan tersodok masuk, jangankan yang sudah didalam gerbong gue aja sering kok merasa ‘terdorong’ oleh sesama penumpang yang naiknya berbarengan. Buat gue asli gak masalah, emang kita sama-sama kejar waktu, kita sama-sama cuman mau masukkk, kita sama-sama cuma mau sampe, enough!! Dan eneg deh kalau ada cewek-cewek yang melotot begitu ngerasa badannya kegeser, atau bahkan mendelik. Ciaaaaaaattttt, bruggg....Huhh.


Kalau mau sok-sokan kayanya gue punya alasan paling banyak deh buat selalu ngomel. Selain dari sananya gue udah judes, hehehe... gue paling engga suka deket-deket sama non muhrim apalagi ditempel, dan gue paling panasan liat cewek tengil dan gue sudah lama ‘nyaman’ bekerja. Sepertinya gue akan tiap hari emosional dengan perjalanan kerja. Tapi seperti gue bilang tadi, gue menikmati perjalanan ini sebagai bagian dari paket hidup aja. Dipepet laki-laki entah itu anak muda, bapak-bapak, lelaki jejadian  buat gue udah bukan masalah lagi. I know it karena si kondisi ajah. Pun ternyata ada yang ‘niat’  sexual harrasment, gue gak bisa menghakimin juga, asli sikonnya memang padat banget man.

Oh ya, ternyata numpang nyelip itu butuh tenaga extra loh bow, so far gue selalu membaca sikon dan biasanya memastikan kalau ‘pemaksaan’ gue harus berhasil. Tapi secara manusiawi sering juga gue gagal masuk gerbong dan terpaksa  turun dan pas turun napas gue tersenggal, asli capek dan gemeteran, baru gue sadar ternyata masuk KA itu butuh kekuatan yang engga sedikit.

Perjalanan yang menyenangkan?? engga juga sih, hate this?? sama sekali tidak. Gue menikmati  perjalanan ini setiap harinya dengan paradigma baru, mencoba anti mainstream sambil menikmati jadwal KA baru per Juni, yang menurut gue sedikit lebih baik, sambil terus meyakinkan suami gue yang tiap hari ngantar sampai ke stasiun dengan perasaan miris dengan kalimat “I am okay beib”.

Apakah gue hanya menemukan perempuan menyebalkan?? Gak juga sih, ada juga bapak-bapak, om-om, anak muda nyebelin yang tengil dan kemaruk sama bangku. But menurut gue jumlah mereka lebih sedikit dibanding perempuan yang resek, dan tidak jarang malah perempuan-perempuan yang males ‘rebutan’ di gerbong cewek lebih milih di gerbong campuran... Yups. 




Kamis, 19 Juni 2014

Story of my train (part I)




Menurut  gue perjalan dengan menggunakan Kereta Api itu punya makna yg sangat dalam dan personal buat gue pribadi, lagian juga sebenernya sih soal si per-kereta apian- ini bukanlah hal baru buat gue. Lemme’ tell you my story  :-).

15 tahun yang lalu di pertengahan 1998 gue pernah ngerasain kerja jadi buruh di daerah per-pabrikan Cikarang sana dan merasakan naik KA Ekonomi. KA yang sumpek, kotor dan yang paling nyebelin adalah skejulnya yang tight banget. Waktu itu KA jurusan Cikarang dari stasiun Kelender
belakangan gue jadi tahu, stasiun gue itu disebut Klender Lama, karena kemudian ada yang namanya stasiun Kelender Baru (gue sih sukanya bilang stasiun Pondok Kopi) cuman ada sejam sekali, dimana kalau kita telat gara-gara sepersekian detikkk, oalaaa... Selamat bersenang-senang deh, karena sebagai gantinya gue WAJIB naik bus yang gak kalah sumpeknya, dan pastinya jauh lebih lama, dan lebih mahal pulak. 


Lalu tahun 2010, gue ngerasain lagi naik KA Ekonomi menuju Kota. Yaps, kali ini level udah agak naikan dikit lah, gue kerja sebagai setap di daerah Pluit. Ceritanya, masih naik KA Ekonomi yang sumpek dan bercampur sama para pedagang dipasar. Kalu pedagang kain masih mendingan dikiiit, tapi gak jarang kita naik barengan sama kambing dan sayuran segunung, hehehe. 

Iya, gue engga ada maksud untuk blaming para pedagang itu koq, wajar lah kalau mereka juga milih naik KA, selain cepetnya yang pasti banget ya murahnya itu bow. Kebayang dong, bawa barang segambreng ongkos cuma seribu rupiah.  Syukur-syukur kalu mau beli tiket, khan banyak juga  tuh penumpang gelap yang sampai hari ini gue masih engga paham, kenapa ada penumpang yang tega 'nilep' si serebu perak itu, padahal kita kan udah di-cepetin banget sama si KA ini. But  sedikit bahasa sok-nya, gue cuma bisa bilang; yeah, orang Indonesia man!!

Kereta Api tahun di 2010 itu masih juga padet det, masih banyak yg ektrim, mulai dari ‘naik’ asal nempel di segala body kereta, naik diatap KA, duduk dipintu yg tidak ditutup, gelaran tiker/koran dilantai, duduk pake dudukan lipat bahkan banyak yang bawa jengkok juga  (jengkok/jongkokan: dudukan dari plastik atau kayu yg biasa gue pake buat nyuci baju/piring sambil jongkok). Bahasa Indonesianya apa ya?? Hehehe

Jadwalnya juga masih ganggu, tapi gak separah 12 tahun sebelumnya, dimana jadwal KA itu sejam sekali. Tahun 2010 ini jadwal paginya lumayan bersahabat cuma beda biayanya ampun-ampun dech, bayangkan gue biasa naik KA Ekonomi yang jam 6.30 pagi dengan ongkos seribu rupiah. Di jam 7 kurang dikit ada AC Ekonomi dengan harga tiket 4500 dan di jam 7 lebih kalau bener-bener kesiangan (pernah gue ngalamin naik 1x) ada kereta AC Express dengan harga tiket 9000. Cekidot, 1000, 4500 dan 9000... please dech, walaupun kenyamanannya emang ‘gak dusta’ cukup mengerti dong kenapa si Ekonomi ini tetap jadi idola kami (gue-lah) sebagai pekerja. 

 
Ditahun 2014, kembali gue berjodoh dengan si “hitam yang selalu diantriin”. Jaman ini KA udah gak hitam pun tapi putih malahan banyak gambar-gambarnya. Yang pertama gue highlight  adalah skejulnya, teringat masa lalu dimana jadwal kereta itu momok yang nakutin (gak pake ampun) gue agak-agak senyum puas dikit lah. Skejul berjarak sekitar 15-20 menit aja, semua harga tiket sama, sudah terintegrasi pula, so kalu gue mau menuju daerah mana tinggal turun dimana dan sesuaikan (kalau jaman dulu khan beda banget, harus menuju ke stasiun mana gitu untuk mencapai  stasiun sesuai ‘rute’nya) males dech :-(.

Sesungguhnya sebelum fix naik KA ini gue udah banyak ‘berguru’ dulu dengan teman-teman yang menurut stalking-an gue juga naik KA ke kantornya. Dan walau agak kagok dihari pertama, segera gue merasa cukup gagah dan mampu beradaptasi koq. Yaelaaa sok bingits, hahaha.

Kereta Api sekarang menurut gue agak lebih manusiawi, gak ada kelas-kelas-an, berAC semua (sebagaian sebenarnya cuma kipas gede sih), gak boleh duduk dilantai, gak boleh jongkok, gak boleh bawa barang lebih dari sekian-sekian kubik lah, pintu tertutup dan yang paling win-win solution menurut gue adalah: semua bayarrrrrr, karena udah pake system e-ticketing maka kita semua wajib beli tiket. Ya lah, sebagai orang jujur dan takut dosa (walau sedikit agak pelit, hehehe) gue suka geregetan sama mas-mas tengil yang naik KA dan beruntung dapat duduk tapi pas turun di stasiun mereka muter lewat belakang karena gak punya tiket. Gue yang bayar serebu berdiri dibawah ketek orang sambil nahan pinggang puegel (kalau pas berdiri dekat rombongan yang gelaran tiker/dudukan. Halllaaah makkk.


Back to 2014, untuk menuju kantor di Cideng gue di ajarkan untuk naik KA dari Manggarai lalu naik yang arah Tanah Abang. Perjuangan dimulai sejak pagi, KA dari Bekasi menuju Jakarta udah penuh bahkan sejak dari Bekasi-nya. Kebayanglah nasib gue yang naik di stasiun ke-4. Sudah penuh, padat, ketat, sesak, dan berjejal, kyaaa... Gak sampe berapa hari  gue langsung belajar tehnik masuk KA yang sudah padat dengan cara ‘menyempil’ dengan mendorong pantat. And I guess, i did it already, hehehe #ini kisah nyata bow :-)