Pelajaran selanjutnya yang gue dapat dari Kereta Api, oh ya lupa
cerita... sekarang KA lokal disebut commuterline,
dan gue engga paham kenapa dan artinya apa?. Jaman dahulu kala yang gue tau KRD
dan KRL, bedanya juga baru tau di kemudian hari setelah gue merit, dikasih tau misua.
Sejak hari pertama naik KA gue memang tidak mempersiapkan diri untuk shock atau sekedar terpana. Gue langsung
membaca dan sigap dengan sikonnya. Yeah gak sejago itu juga sih, hehehe. Ada
moment beberapa saat yang gue
merhatiin cara-cara orang ‘menyusup’ dengan sopan kedalam kepadatan manusia
didalam gerbong. Dan intinya semuanya begitu kondisional dan situasional, aiiihh...
bahasa gue, Hahaha.
Ada satu hal yang sudah lamaaaa banget agak mengusik pikiran gue,
orang-orang pasti akan menyebut ini neg-think-nya
gue, tapi jujur banget ya rasa ‘terganggu’ dari sikap beberapa teman perempuan itu sudah lama gue rasakan, tapi gue engga mengerti
mengistilahkan-nya. Belajar dari kisah per-Kereta Apian akhirnya terjawablah penasaran
gue soal karakteristik perempuan secara naluriah. Sesungguhnya perempuan itu
kompetitif banget (istilah ini gue jiplak dari temen), karena bahasa gue pada mulanya dengan
karakteristik perempuan-perempuan yang gue kenal seperti ini adalah
"munafik, rempong dan tengil". Ternyata perempuan itu mainstream dan kompetitif abiss.
Cewe tuh langsung gerah kalau liat cewe lain nyaman, cewe cepet emosian
kalau ada cewe lain yang kelihatan berhasil (semua yang gue bahas masih soal
per-KA ya), dan mereka tegaan juga lho, terlebih sama sesama cewe. Sesungguhnya kasus Dinda itu
hanya potongan kecil dari kekompetitipan
kaum perempuan pada sesamanya. Kalau banyak orang yang ‘hanya’ menyalahkan si
Dinda, gue sih menyalahkan juga perempuan-perempuan yang ‘sependapat’ sama si
Dinda ini. Gila yaks... tega sama sesama perempuan, dan lebih tega lagi
perempuan yang mendukung perempuan lain untuk tega... ;-(

Begini cerita gue soal gerbong perempuan, gue dah pernah describe bagaimana kepadatan gerbong KA
ini dijam pagi, dari Bekasi ke Manggarai memang sudah padat (only miracle will make me got seat ;p).
Secara arah gue ke Cideng, maka gue akan naik KA yang lewat Sudirman. Tau dong
kalau Sudirman dan Kuningan ini merupakan jantung perkantoran Jakarta? So kebayang berapa puluh manusia yg mau
naik bersama-sama penumpang yang menuju Tanah Abang? Puluhan? salahhh,,, yang
bener berapa juta, imagine manusia dari
Bekasi, dari Bogor, Depok juga Tangerang, most
of people will point at Sudirman.
Maka gerbong KA yang sudah padat
dari Depok or Bogor itu akan dikeroyok
oleh kami di stasiun Manggarai. Space gerbong
yang (pantesnya) cuma ditambahi oleh puluhan
orang akan dikerubutin oleh ratusan
orang. It’s totally so crowdy.
Sumpah gue engga pernah nyesal atau mengasihi diri dengan kepadatan ini. Tahun 2005-2010
gue gawe di luar Jakarta yang ada jemputan Kijang di pick up point yang tidak jauh dari rumah gue. Di 2011-2013 kembali
gue gawe dikisaran Bekasi pinggiran yang ada jemputan juga. Walau titik
jemputan tidak sedekat yang sebelumnya, tapi for absoloutely ini bukan jarak yang ‘ganggu’ koq. Tidak lama kemudian
bus ini di konversi ke mobil yang lebih kecil. Initinya tidak ada ‘kesalahan’
sama sekali soal transportasi kerja gue sebelumnya, malah bisa dibilang sangat
nyaman.
Tapi entah kenapa, gue koq engga pernah tuh yang namanya tidur di
jemputan. Ya okey, pasti pernahlah sesekali, entah itu karena bete, sakit atau
ngantuk berat. Tapi most of all, gue
tidak sebegitu “menikmati” perjalan ini sebagai perpanjangan tidur. None in this 8 years. Buat gue kerja itu
yang dinikmatin ya kerjaanya, lingkunganya dan lingkungannya (lagi). Gue
tipikal yang milih ngobrol sama siapa yang terjaga selama perjalanan ketimbang
tidur. Entah itu jatuhnya jadi curcol, gosip, rumpi, whatever, yang pasti bukan fitnah ya. Makanya gue akrab sama
beberapa supir kantor, bahkan sampai hari ini. Nah waktu pakai bus, gue menghabiskan waktu si
30-45 menit ini buat baca-baca buku atau gadget.
Makanya naik KA walaupun secara kenyamanan bagai langit dan bumi
(istilah suami gue tuh..) engga sehancur itu juga sih menurut gue. Perjalanan pendek
yang penuh sesak dan perjuangan ini malah berfilosofi banget buat gue. Which is: kesusahan
itu sebentar banget koq, engga usah
dinikmatin juga, dan setiap perjalanan pasti
punya ceritanya sendiri. What
doesn’t kill you will makes you
strongger, and i felt it. ;-) Jyaaaa...
Pengalaman pahit digerbong perempuan engga bisa dibilang sedikit, walau
tidak setiap hari. Tapi kebanyakan kalau kita mendesak ke gerbong perempuan,
mereka mau loh dorong balik kita yg lagi berjuang masuk kedalam KA, ada juga yg
keukehh pegangan sama tiang/bandulan asal gak move on. Pokoknya digerbong perempuan kalau sudah agak padat kita
pasti susah masuk. Ada aja sih beberapa perempuan baik dan ngasih kesempatan
masuk (dan gue tipikal yang seperti ini juga) “dorong aja mba, bisa koq.” Tapi
bagaimana bisa kalu yang baik less than
sepersekian persen dari perempuan yang ada didalem itu. Percuma kecuali kalau
mau ngotot balik!!!
Bahkan pernah di gerbong perempuan, kita gak dikasih masuk. Ceritanya
begini, di stasiun Manggarai KA dari Tanah Abang baru saja tiba waktu KA
jurusan Bekasi tutup pintu, maka berlarilah kami para pemburu pulang dengan semangat
45 dan kami berhasil. Mulailah kami mengedor-gedor pintu (kek angkot gitu deh,
hahaha) didalam tampak wajah-wajah perempuan bengis dan sinis karena kelakuan
kita. Demi langit dan bumi, komposisi gerbong bisa di bilang kosong-song-song,
dimasukin manusia sebanyak 4 gerbong lagi juga pasti bisa masuk deh, setelah masinis ngebukain pintu
masuklah kami seperti air mampet yang tetibaan tercurah. Sambutan pertama
adalah ocehan-ocehan sadis para pempuan kece-kece itu, belum bentuk pertahanan body mereka seolah-olah KA gak muat
dimasukin lagi. Buat gue itu kejam banget.
Posisi yang padat, sumpek tidak jarang saking padatnya bulu mata bisa nyolok
mata orang. Serius deh, paling nyebelin kalau ketemu perempuan-perempuan ‘sok’
cantik yang kelihatan kesel kalau rambutnya kesentuh atau bodinya kesenggol.
Sumpah, mau gue tabok aja rasanya. Tiap episode masuk tuh alurnya akan selalu
sama (waktu gerbong padat ), otomatis yang didalam KA akan tersodok masuk,
jangankan yang sudah didalam gerbong gue aja sering kok merasa ‘terdorong’ oleh
sesama penumpang yang naiknya berbarengan. Buat gue asli gak masalah, emang kita
sama-sama kejar waktu, kita sama-sama cuman mau masukkk, kita sama-sama cuma
mau sampe, enough!! Dan eneg deh
kalau ada cewek-cewek yang melotot begitu ngerasa badannya kegeser, atau bahkan
mendelik. Ciaaaaaaattttt, bruggg....Huhh.

Kalau mau sok-sokan kayanya gue punya alasan paling banyak deh buat
selalu ngomel. Selain dari sananya gue udah judes, hehehe... gue paling engga suka
deket-deket sama non muhrim apalagi ditempel, dan gue paling panasan liat cewek
tengil dan gue sudah lama ‘nyaman’ bekerja. Sepertinya gue akan tiap hari
emosional dengan perjalanan kerja. Tapi seperti gue bilang tadi, gue menikmati
perjalanan ini sebagai bagian dari paket hidup aja. Dipepet laki-laki entah itu
anak muda, bapak-bapak, lelaki jejadian
buat gue udah bukan masalah lagi. I
know it karena si kondisi ajah. Pun ternyata ada yang ‘niat’ sexual harrasment,
gue gak bisa menghakimin juga, asli sikonnya memang padat banget man.
Oh ya, ternyata numpang nyelip itu butuh tenaga extra loh bow, so far gue
selalu membaca sikon dan biasanya memastikan kalau ‘pemaksaan’ gue harus
berhasil. Tapi secara manusiawi sering juga gue gagal masuk gerbong dan
terpaksa turun dan pas turun napas gue
tersenggal, asli capek dan gemeteran, baru gue sadar ternyata masuk KA itu
butuh kekuatan yang engga sedikit.
Perjalanan yang menyenangkan?? engga juga sih, hate this?? sama sekali tidak. Gue menikmati perjalanan ini setiap harinya dengan
paradigma baru, mencoba anti mainstream
sambil menikmati jadwal KA baru per Juni, yang menurut gue sedikit lebih baik,
sambil terus meyakinkan suami gue yang tiap hari ngantar sampai ke stasiun
dengan perasaan miris dengan kalimat “I
am okay beib”.
Apakah gue hanya menemukan perempuan menyebalkan?? Gak juga sih, ada
juga bapak-bapak, om-om, anak muda nyebelin yang tengil dan kemaruk sama
bangku. But menurut gue jumlah mereka
lebih sedikit dibanding perempuan yang resek, dan tidak jarang malah
perempuan-perempuan yang males ‘rebutan’ di gerbong cewek lebih milih di
gerbong campuran... Yups.