Minggu, 28 April 2013

Did I say "I am right"



Di suatu kemarin aku melakukan kesalahan, tidak fatal memang tapi jelas merugikan aku. Hari itu lupa mengingatkan orang yang seharusnya aku hubungi jika aku pulang malam. Padahal biasanya aku paling repot dengan kebiasaan ini. Oke, sampai sini aku masih berlapang dada, toh bukan tidak mungkin terjadi. Banyak orang lain juga yang sudah punya pengalaman seperti ini. Pun, dari berpuluh-puluh kali pulang malam aku sadar akan ada saatnya aku “mengalami” hal yang sama. Tertinggal mobil jemputan. 

Cuma yang membuat aku kesal adalah “nyanyian” seorang teman sepanjang jalan. Hi ladies, aku nih sangat sadar diri, dijemput balik aja udah syukur (dengan baik hati mobil jemputan yang sudah menjauh sudi berputar balik )… Puji Tuhan, so aku aku tidak bermaksud minta lebih. Aku sudah mensetting dikepalaku juga di sms-ku untuk dijemput ditempat yang lebih “fair”. 

Apa daya aku sudah mencoba menahan mulut tapi setelah beberapa saat mendengar celotehan teman lelaki ini akhirnya pertahananku pecah. Aku mendebat komentar ‘ketakutan’ si teman.  Oh ya, seorang teman lain --yang biasanya baik-- juga mendadak ikut menyerang kalimat kepadaku.  

Yeah, melihat bagaimana biasanya dia bersikap manis, aku tidak menganggap ini sebuah serangan sebenarnya. Ini hanyalah masalah persepsi. Tapi bagaimanapun juga aku tau,  dia ‘takut’ kalau-kalau aku tidak turun ditempat yang adil. Jadilah perjalanan itu menjengkelkan, duduk sendiri dibelakang, menahan geram dengan sikap asem teman-teman. Para lelaki pula. Malamnya aku muntah-muntah karena sakit kepala. 

Di keesokan harinya. Bukan hal membanggakan sebenarnya untuk diceritakan. Iya, AKU TAU AKU SALAH, karena keluar lewat beberapa menit dari batas waktu seharusnya, walaupun biasanya selalu ada “spare waktu”. Tapi entah kenapa hari itu tidak ada. However, tetap kuanggap itu kesalahanku dan hari sialku, karena menelpon security pun tidak. Makanya aku memulai ceritaku dengan setengah suara, --berbisik lebih tepat--. Terlihat jelas si teman “baik” ini langsung buang muka. 

Kemudian seorang teman lain cepat memotong (I suer I speak in whisper,, paling tidak mereka tau aku tidak “pamer” suara seperti kebiasaanku bercerita). Si teman memotong pendek, “elo yang salah lagi War..” tukas beliau cepat. Si teman baik yang tadi buang muka, kemudian menyodorkan wajahnya kearahku dengan kalimat “elo salah lagi mba..”. Mulutku tiba-tiba kelu, did I say I am right ladies??? Lagipun yang “niat” aku gunjingkan adalah soal “kebawelan” seorang pria dijemputan kemarin.  Iya aku salah, tidak udah para teman baik ini ikut-ikutan berholla juga aku sadar, aku telat 3-5menit lah.. so?? 

Medadak perasaanku jadi mentah, minat bercerita hilang sudah. Tidak lagi penting siapa yang bawel, engga penting siapa yang salah, engga mau tau lagi mana batasan benar dan tidak, aku merasa engga engak aja dengan kalimat pembuka mereka “elo salah…”. Bahkan sebelum mereka mendengar “versi” ku. Then.. okey, silent better maybe.

Di sebuah sore kemudian, seorang teman tidak hadir disebuah ‘kegiatan’ kantor, kemudian ditegor oleh si pembuat acara. Dengan berapi-api si teman ini bercerita dan terus membela diri betapa yang dia lakukan karena ada alasan dan si penegur ini seolah-olah menebar terror.  Aku terdiam, wah enaknya bisa membagi kesal plus versi sendiri dengan menyala-nyala bahkan setelah ‘alasan’nya jelas-jelas sebab-akibat. 

Seorang teman yang lain menimpali, dia tidak terlalu ‘selera’ dengan kegiatan ini dan mulailah me-list the negative things dari kegiatan tersebut. Keduanya asyik dengan “tudingan dan menyalahkan” pihak lain yang tak tampak, yang bahkan semuanya hanyalah “asumsi”… Kedua teman yang kemarin faseh bilang “elo salah..” ini sedang ramai dan gandrung membahas “ke tidak-sukaan” mereka di setengah perjalanan.

Teringat kemarin, aku baru mau cerita sikon-ku yang terpaksa menahan kesal dalam duduk bego yang diocehin orang sepanjang jalan. Mereka memutus dengan “elo yang salah..” uhhh. Again please remind me; apakah aku sempat memulai dengan kata “padahal gue..” atau “gue bener, gue udah…” not at all.

Tau rasanya kaya apa?? Serasa penjahat kelas kakap yang idiot, cuma bisa kesal dan keki. Kemudian perut terasa mual karena menahan kecewa, rasanya pengen ngemil paku sambil minum soda api… #emang kita toilet mampet apa, hahaha…

  
(*) Hampir di penghujung April 2013

Kamis, 18 April 2013

Mad of me :(



Dengan kesadaran penuh aku bisa bilang kalau email itu memang tidak terlihat ada apa-apa-nya sama sekali, tidak juga ada kata-kata yang cukup atau bahkan bisa dipaksakan  mengandung unsur “melecehkan” apalagi “memarahi”.

Tapi dengan kondisi hati yang sedang tidak terlalu fit, perasaanku langsung miris dan sesak dengan jawaban (ataukah) pernyataan si bos atas pangajuan cuti aku.
Why should I,  kenapa mesti gue, kenapa giliran kerjaan recehan tapi merintil banyak en gak keliahatan gitu harus gue yang pasang badan??? HALOOOO...  batinku teriak kencang, mau marah rasanya, mau junggir balik dilantai rasanya, mau nangis rasanya,,, meski sadar juga ini gak separah itu, ini gak sepenting itu, but still its hurt, its suck...  AAARRGGHHH 

Hi Sir, do you know??  No one ever involve me here, gak ada satupun yang pernah bagi info disini. Gak pernah ngerasa jadi bagian disini,  bagian ku Cuma “kerja bakti”. Nyaris setahun nyasar diruangan ini tidak ada satupun “ilmu” yang kudapat dengan cara yang “professional” tidak juga ada uluran tangan yang menawarkan pertolongan apalagi kerjasama disini.

Semua aku raba dengan ketakutan, semua aku tekuri dengan jijik, antata rasa menyerah dan tak mau kalah. Dengan gumpalan asa kemarahan yang terus membakar diri. 

Semua hal kupelajari dengan lambat. Banyak kali harus memaksa diri terlihat tolol, belum lagi gelitikan-gelitikan ganggu “rekan” yang menimpali Kata-kata; bego, gak ngerti apa-apa, gak bisa kerja, blah blah… semua membuat tekanan darah dan emosionalku meledak.

Sore ini aku marah, sedih rasanya!!! Sakit tidak dianggap orang disini --walaupun aku sudah berusaha keras  mempelajari semuanya dengan caraku, walaupun sudah kucoba memperbaiki system yang antah berantah ini-- Masih ku jadikan bahan tertawaan sendiri. Walaupun sudah membaca intrik-intrik sebagain orang, aku masih menutup mulutku untuk “komentar” soal ‘tempat ini, walau marah dan kesal dijajah tenaga dan otak tapi bahkan “seorang Mawar” tidak pernah dikenali disini. Setelah semua rasa yang membuat ku itu kesal, masih kulapangkan dada, semuanya hanya menjadi olok-olok untuk mentertawakan kemalanganku.

Tapi email kecil si bos, cukup memicu ketegangan diurat dan hatiku, kembali rasa itu menggugat hati. Kecewa, marah, sedih. Sakit rasanya sudah tak dianggap tapi disuruh kerjakan bagian-bagian yang ditinggalkan orang pula, marah dengan sikon yang terlihat tidak memihak aku, kecewa dengan system... aku menangis tidak jelas sore ini.

Almost 4 o’clock, and office hour will off but then my heart felt so hurt and the hard rain made it so complete.