Di
suatu kemarin aku melakukan kesalahan, tidak fatal memang tapi jelas merugikan
aku. Hari itu lupa mengingatkan orang yang seharusnya aku hubungi jika aku
pulang malam. Padahal biasanya aku paling repot dengan kebiasaan ini. Oke,
sampai sini aku masih berlapang dada, toh bukan tidak mungkin terjadi. Banyak
orang lain juga yang sudah punya pengalaman seperti ini. Pun, dari
berpuluh-puluh kali pulang malam aku sadar akan ada saatnya aku “mengalami” hal
yang sama. Tertinggal mobil jemputan.
Cuma
yang membuat aku kesal adalah “nyanyian” seorang teman sepanjang jalan. Hi ladies, aku nih sangat sadar diri,
dijemput balik aja udah syukur (dengan baik hati mobil jemputan yang sudah
menjauh sudi berputar balik )… Puji Tuhan, so aku aku tidak
bermaksud minta lebih. Aku sudah mensetting
dikepalaku juga di sms-ku untuk
dijemput ditempat yang lebih “fair”.
Apa
daya aku sudah mencoba menahan mulut tapi setelah beberapa saat mendengar
celotehan teman lelaki ini akhirnya pertahananku pecah. Aku mendebat komentar ‘ketakutan’
si teman. Oh ya, seorang teman lain --yang
biasanya baik-- juga mendadak ikut menyerang kalimat kepadaku.
Yeah, melihat bagaimana biasanya dia bersikap manis, aku tidak menganggap ini sebuah serangan sebenarnya. Ini hanyalah masalah persepsi. Tapi bagaimanapun juga aku tau, dia ‘takut’ kalau-kalau aku tidak turun ditempat yang adil. Jadilah perjalanan itu menjengkelkan, duduk sendiri dibelakang, menahan geram dengan sikap asem teman-teman. Para lelaki pula. Malamnya aku muntah-muntah karena sakit kepala.
Yeah, melihat bagaimana biasanya dia bersikap manis, aku tidak menganggap ini sebuah serangan sebenarnya. Ini hanyalah masalah persepsi. Tapi bagaimanapun juga aku tau, dia ‘takut’ kalau-kalau aku tidak turun ditempat yang adil. Jadilah perjalanan itu menjengkelkan, duduk sendiri dibelakang, menahan geram dengan sikap asem teman-teman. Para lelaki pula. Malamnya aku muntah-muntah karena sakit kepala.
Di
keesokan harinya. Bukan hal membanggakan sebenarnya untuk diceritakan. Iya, AKU
TAU AKU SALAH, karena keluar lewat beberapa menit dari batas waktu seharusnya,
walaupun biasanya selalu ada “spare
waktu”. Tapi entah kenapa hari itu tidak ada. However, tetap kuanggap itu kesalahanku dan hari sialku, karena
menelpon security pun tidak. Makanya
aku memulai ceritaku dengan setengah suara, --berbisik lebih tepat--. Terlihat jelas
si teman “baik” ini langsung buang muka.
Kemudian seorang teman lain cepat memotong (I suer I speak in whisper,, paling tidak mereka tau aku tidak “pamer” suara seperti kebiasaanku bercerita). Si teman memotong pendek, “elo yang salah lagi War..” tukas beliau cepat. Si teman baik yang tadi buang muka, kemudian menyodorkan wajahnya kearahku dengan kalimat “elo salah lagi mba..”. Mulutku tiba-tiba kelu, did I say I am right ladies??? Lagipun yang “niat” aku gunjingkan adalah soal “kebawelan” seorang pria dijemputan kemarin. Iya aku salah, tidak udah para teman baik ini ikut-ikutan berholla juga aku sadar, aku telat 3-5menit lah.. so??
Kemudian seorang teman lain cepat memotong (I suer I speak in whisper,, paling tidak mereka tau aku tidak “pamer” suara seperti kebiasaanku bercerita). Si teman memotong pendek, “elo yang salah lagi War..” tukas beliau cepat. Si teman baik yang tadi buang muka, kemudian menyodorkan wajahnya kearahku dengan kalimat “elo salah lagi mba..”. Mulutku tiba-tiba kelu, did I say I am right ladies??? Lagipun yang “niat” aku gunjingkan adalah soal “kebawelan” seorang pria dijemputan kemarin. Iya aku salah, tidak udah para teman baik ini ikut-ikutan berholla juga aku sadar, aku telat 3-5menit lah.. so??
Medadak
perasaanku jadi mentah, minat bercerita hilang sudah. Tidak lagi penting siapa
yang bawel, engga penting siapa yang salah, engga mau tau lagi mana batasan
benar dan tidak, aku merasa engga engak aja dengan kalimat pembuka mereka “elo
salah…”. Bahkan sebelum mereka mendengar “versi” ku. Then.. okey, silent better maybe.
Di sebuah
sore kemudian, seorang teman tidak hadir disebuah ‘kegiatan’ kantor, kemudian ditegor
oleh si pembuat acara. Dengan berapi-api si teman ini bercerita dan terus membela
diri betapa yang dia lakukan karena ada alasan dan si penegur ini seolah-olah
menebar terror. Aku terdiam, wah enaknya
bisa membagi kesal plus versi sendiri dengan menyala-nyala bahkan setelah ‘alasan’nya
jelas-jelas sebab-akibat.
Seorang
teman yang lain menimpali, dia tidak terlalu ‘selera’ dengan kegiatan ini dan
mulailah me-list the negative things dari kegiatan tersebut. Keduanya asyik dengan “tudingan
dan menyalahkan” pihak lain yang tak tampak, yang bahkan semuanya hanyalah “asumsi”…
Kedua teman yang kemarin faseh bilang “elo salah..” ini sedang ramai dan
gandrung membahas “ke tidak-sukaan” mereka di setengah perjalanan.
Teringat
kemarin, aku baru mau cerita sikon-ku yang terpaksa menahan kesal dalam duduk
bego yang diocehin orang sepanjang jalan. Mereka memutus dengan “elo yang
salah..” uhhh. Again please remind me; apakah aku sempat
memulai dengan kata “padahal gue..” atau “gue bener, gue udah…” not at all.
Tau
rasanya kaya apa?? Serasa penjahat kelas kakap yang idiot, cuma bisa kesal dan
keki. Kemudian perut terasa mual karena menahan kecewa, rasanya pengen ngemil
paku sambil minum soda api… #emang kita toilet mampet apa, hahaha…
(*) Hampir di penghujung April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar