Pernah merasa terganggu kah dengan bercandaan soal ras?? Okey-okey…
sebagai bahan becandaan atau bahan pembicaraan banyak kali kita sama-sama sadar
bahka kalimat itu memang tidak dimaksudkan untuk “mengejek”. Akan tapi untuk moment
yang sedang tidak tepat bercandaan tentang ras bisa bikin temperamen naik, juga
sangat memungkinkan menjalar-kan ke persoalan lain yang sesungguhnya bukan core si masalah. Seperti pengalaman saya
dipagi yang kemudian menjadi hari yang sangat tidak kondusif.
Saya tidak akan mengawali dengan berkisah atau menjabarkan asal-usul
saya, karena baik langsung atau tidak saya sudah sering bilang ditulisan
terdahulu kalau saya dari memang ras sebrang. Saya adalah orang Batak
transmigran. Dan memang belakangan ini saya agak-agak keranjingan dengan adat per-Batak-an,
paling simpel dalam hal bahasa-lah. Hampir sebulanan ini saya memang lagi ‘sedikit’
latah untuk sering-sering berbahasa Batak. Soal intonasi, saya sih tidak suka
untuk bilang −walau tidak menampik juga− kalau bersuara keras memang sudah jadi
bawaan saya sebagai orang Batak. Karena beberapa halak ion (penduduk Jawa maksudnya) yang katanya punya tutur halus
toh saya kenal berintonasi keras juga.
Pagi itu telpon yang tadinya saya maksudkan untuk maksud baik –karena seorang
saudara sudah lama tidak kelihatan− berubah mejadi ajang caci maki. Si Saudara
yang tadinya mau saya tanyakan kabar malah balik berkisah tentang kekesalannya,
dan ironisnya kekesalanya jelas mengena pada orang-orang terdekat saya. Tanpa
bermaksud basa-basi apalagi pura-pura, saya masih memasang telinga dengan pekak
dan panas. Cacian tidak hanya berhenti sampai di situ, bahkan kisah-kisah
usangpun jadi bagian kekesalanya, dan ini membuat hati saya makin pilu. Saya pikir
kisah itu sudah usai.…
Setengah jam kemudian saya menutup telepon, menahan diri dari kesal
dan sakit hati yang meluap-luap. Akan tetapi karena memang dari awal “niat”
saya bertelpon adalah untuk menjalin tali silaturahmi saya tetap memaksa hati untuk
lapang dengan cercaan si Saudara. Janjian untuk ketemuan yang dari awal memang
saya niatkan pun tidak saya batalkan. Tapi
sejujurnya sedari tadi airmata saya rasanya mau tumpah, mata saya terasa merah
dan panas. Jauh sebelum 30 menit ini berakhir.
“Ini orang Batak kalau teleponan rame banget, ganggu orang kerja!!”,
celoteh seorang teman tiba-tiba.
“Masalah loe apa,” balas saya cepat, awalnya masih dengan nada santai
walau agak keki.
“Teleponan loe berisik, pake ngomong-ngomong Batak lagi, curcol lagi,
ngenganggu orang seruangan,” timpalnya lagi, masih dengan kekehan-kekehan kecil.
Tapi perasaan saya mulai tidak nyaman. Masih terus berlanjut ‘omelan’ atau ‘becandaan’
kah itu???, intinya berulang “berisik, Batak, curcol-an yang gak penting dan menganggu
proses kerja si teman”. BAAHHH!!!!
Seperti telinga kelinci dengan kepekaanya pada sinyal suara, seperti
itulah perasaan saya saat itu. Kuping ini makin terasa panas, tidak jelas lagi
apakah karena saya memang sedang kalut dengan setumpuk pekerjaan yang sudah
seminggu menggantung dan tak bersolusi ini. Yang jelas bercaandaan ras tadi
terasa membakar dada saya. “Bego nih
orang batin saya, ngarti orang abis kenapa gak sih” batin saya. “Manusia gunung apa manusia batu, gak
perperasaan banget,” gerutu saya kesal, marah dan akhirnya membara juga.
Kemudian saya menyambar ‘tidak nyambung’, membuktikan dengan kekesalan
penuh “sebuah bagian dari kesalahan si Teman ini”. Jauh bara dari api sesungguhnya, tapi
yang jelas bercandaan ras si Teman yang salah kamar ini jelas-jelas membuat mood saya rusak. Ditambah lagi memang saya
sedang berusaha kenalan dengan area Batak dan kemudian dia menganggap itu
sebuah gangguan. Kok saya tidak nyaman
ya...
