Minggu, 03 November 2013

My Jakarta Marathon (part I)




Actually saya belum bisa bilang ini hoby saya. Yups, walaupun ini adalah hal yang sebenarnya jauuh sebelumnya sudah mau (sangat) saya lakukan. But I haven’t, why?? alasanya; standard; malas. Hihihi.

Saya sudah seminggu menahan rasa supaya jangaaan nulis lagi soal lari, unless I did it myself. Tapi ternyata rasa itu begitu menggebu dan mengejar saya untuk menumpahkan perasaan ini. Rasanya apa sih Mawar? apa ya… ya kagum, kaget, mellow, seneng, bangga, pokonya semua rasa begitu membaur dihati saya.

Padahal sampai sejauh ini saya masih berkapasitas sebagai ‘penonton’ lho, eh manager  tepatnya (liat yang blog saya I am Manager  yaks, hahaha ) biar mengerti posisi saya sesungguhnya... beuhhh :-).


Waktu saya mendaftar di Jakarta Marathon 2013, saya tidak punya indikasi apa-apa, gak pusing dengan medali karena di dua race yang kita ikutin sebelumnya kita sudah kehilangan jatah medali 2x―yang 1 lagi kan acara se-Indonesia jadi saya gak yakin kalau acara itu ada medalinya. Tapi yang pasti dan kemudian baru kita sadari, kita sudah missing 2 medal, oh ya 2 medali kali 3 orang ya bow, karena semua race ini diikuti oleh my three family. :-P

Saya juga gak berharap banyak dari  Jakarta Marahon ini, cukup foto in action of my team dan kenalan dengan teman-teman baru komunitas lari itu. Juara?? Bohong kalau saya bilang gak ngarep, tapi realistis-lah dengan lawan se-kelas international gitu… fuihh.

Pagi itu kita bangun jam 2 pagi. Karena di kemudian hari saya baru sadar bahwa race kali ini adalah salah satu ajang kebanggaan bagi para runner, saya semakin exited dihari menjelang hari-H itu. Padahal semalam kita punya acara keluarga yang lumayan padat, tapi entah kenapa pagi itu saya bangun dalam hitungan detik saja setelah alarm jam 01.59 AM berbunyi, kemudian mematikan alarm lain yang berbunyi tepat  jam 2 AM. Tumben bangetzz.

Mempersiapkan tetek bengek buat my 3 racer dan kemudia kita capcus dengan 2 motor tepat jam 3 subuh. Dengan Grace yang masih terlelap sangat dibedongan saya, dengan cuaca dingin yang lumayan bikin gemeletuk dengkul. Sedikit iklan diperjalanan walaupun sudah di ‘asah-asah’ dengan makan dan minum dari rumah tapi tetep saja pelepasan itu meminta waktunya setelah setengah perjalanan. Kita mampir di POM bensin super jorok, but no choise yang penting ada airnya toh, soal sikon terpaksa maklum sajalah.

Jam 5 kurang kita sudah sampai di Monas, dan ternyata banyak para peserta juga sudah merapat ke-arena start. Sesuai run down acara jam 5 tepat dilakukan penembakan pistol tanda lomba lari marathon di ajang Jakarta Internasional Marathon 2013 dimulai. Suami saya ikut yang half marathon denga nomor dada 3854, dan 15 menit kemudian si kakak meluncur untuk lari yang jarak 5K.

Sesungguhnya ada sedikit penyesalan kemudian, karena Kaleb saya daftarkan di kelas anak Maratoon 1.2K padahal kita tau kemampuannya, dimana kelas 5K dan 10K sesungguhnya masih masuk kekuatan dia, tapi mengingat kepadatan saat registrasi ulang―suami saya mengantri dari jam 6-an sore dan baru selesai jam 12 malam kurang sedikit, dia bilang ogah untuk upgrade lagi.


Acara selesai menjelang jam 10an pagi, kadung membawa Grace, membuat si Abang dan Kakak dalam race terpisah ternyata benar-benar membuang waktu dan tenaga. Boro-boro bisa ikutan hang-out sama teman-teman (dunia maya itu) hiks hiks. Boro-boro ingat  foto in action. Semua skejul kami mengalir standard dan seringkes mungkin.


Saya tidak bisa menjemput si papa di garis finish. Gagal mengambil gambar Jane di penghujung finish. Masih untung sempat mengambil gambar anak-anak Maratoonz dengan bapak Jokowi. Kita (atau saya kah?) lebih capek dan sibuk main cari-carian, belum urus Kaleb yang ngambek karena merasa tidak diperhatikan, repot mengantri dikamar mandi yang jaraknya lumayan, belum lagi bolak-balik toilet buat menganti popok Grace. Those my Jakarta Marathon 2013.

Pulang dengan tergesa karena anak-anak mulai bosan, si papa yang kecapean dan menyesali COT-nya yang jauh dari harapan, dan si mama yang juga kebocoran haid di hari ke-2.  Looks like Nothing special, uuhh.

(*) Bersambung : My Jakarta Marathon part II,,,   





Minggu, 20 Oktober 2013

Happy October for Mawar




Oktober selalu terasa jadi milik saya pribadi, rasanya cetar membahana dan sesuatu gitu loh,  alasannya standard lah. Semua orang pasti akan langsung menebak “bulan lahir”… yupss benar sodara-sodara. I am a Libra girl who born in October. Tapi ada lagi yang lebih seru soal Oktober ini dikalangan kami sekeluarga. Kakak tertua saya si 9 Okto, si mama 12 Okto, anak adik saya 15 Okto (atau 5 ya, hehehe…) lalu my 3rb baby 17 Octo dan saya sendiri si 19 Octo.. we are October family khan... sun-prise!!!

Maka tidak terlalu berlebihanlah kalau saya bilang Oktober itu memang serasa milik saya bangetz, atau paling tidak, seperti special menjadi “bulan” kami, hihihi.

Bicara soal Oktober 19 ditahun 2013 ini... apa yang bisa saya ceritakan??

 
34 is my age... diumur segini saya masih juga merindukan apresiasi yang entah dari mana―ngarepnya sih dalam bentuk kenaikan gaji, hehehe―. Hmmm, padahal secara basically saya suka gak yakin dengan konspirasi hati saya. Why?? karena ada saat saya ngerasa bahwa bekerja komersil begini bukanlah dunia saya, lalu kepingin beud jadi politisi, bukan kerana posisinya yang sangat memungkinan untuk cepet kaya (kata berita lho :-)) tapi karena saya selalu geregetan dengan system RUU dan teman-temannya yang membingungkan itu, dan saya merasa (atau bermimpi kah) “wish I am one of the voter” dan saya―merasa lagi―akan berpihak pada orang susah if I were there―lagi-lagi karena saya ‘merasa’ orang susah maka saya akan membela kalangan saya sendiri―. Sering juga memikirkan dunia LSM dan jadi penulis beneran tapi belum menemukan cara untuk bergelut dengan serius disana

Ada masalah dengan harmonisasi emosinoalitas saya, jujur saya masih suka mempertakut orang lain dengan ini (berasa jadi HULK dech)... walaupun saya konfident dengan hati saya yang jujur dan apa adanya, dalam kesemuanya itu yang saya perlukan adalah men-sisasati sikon dengan kecerdasan yang disesuaikan dengan status-sikon sehingga menungkinkan saya pada tahap stabil mental (baru waras kah?). Fuihh,,,

Diusia yang semakin matang ini (istilah paling enak dan sedap untuk kata ‘tua’) saya menyadari kalau sudah seharusnya saya tidak boleh ego dengan kebutuhan dan kepentingan saya pribadi karena saya sudah dianugrahi itik-itik kecil yang butuh dianyomi dan dihidupi (pastinya bukan dengan pur-makanan unggas lho-). Saya harus sering kali membiarkan diri ter-kudeta oleh kebutuhan mereka yang lebih mendesak dari pada sekedar apa yang menjadi keinginan saya dalam statutisasi sebagai perempuan bekerja.

Akhirnya saya mau bilang, I am 34th years now. Bertahun-tahun yang lalu―ketika masih usia belasan―saya selalu berhayal dan berfikir “jadi apakah saya ketika usia sekian-sekian??”…  Waktu usia mid 20-an saya sedang mengendong anak waktu saya dingingatkan ‘pertanyaan’ itu. Dan diumur hampir mid 30-an ini saya kembali diingatkan oleh pertanyaan saya sendiri. 

Lalu pikiran ini melayang-layang, and  America still my wildest dream, mungkin Sun-Francisco sambil mandi sun-bading atau naik motor sambil bonceng anak (saya tidak bisa mengendarai motor sampai hari ini, beuhhh), atau ngetak-ngetik di office hour 8am – 5pm  with confie felt, atau melihat Jane naik ring di ajang nasional―minimal―karena cita-cita kita memang sampai Olympiade, lihat Kaleb ikutan lari Full Marathon diantara kaki-kaki kurus dan hitam milik Kenyan di-race bergengsi still my Imagination.

Saya diusia 34 sekarang dan masih dengan banyak mimpi yang harus dikejar, jadi ingat kata-kata Mbak Anggun bertahun lalu diacara Kick Andy “kalu punya mimpi, ya bangun cuci muka then chase.…”. Kemudian saya sedang bersiap-siap untuk mandi… dan saya baru tau kalau Negara saya baru saja bergerak kearah Timur, dan ternyata level saya baru sekelas tetangga-nel dan baru kemarin pas tanggal 19-Oct kenalan langsung sama pak RT, setelah tinggal disini selama 7 tahun (kebetulan lagi nagih uang sampah+keamanan) … owhh     


Rabu, 16 Oktober 2013

You are the best things in my life


Jam 4 kurang, ah menurut aku sejak jam 3 lewat itu. Karena masih ada jeda waktu dimana aku memaksa untuk tidur berkali-kali. Pindah kelantai lalu memilih tidur di ‘depan’ tapi tidak berhasil.

Bagi seorang Mawar yang hobby molor, terbangun di tengah fajar menjelang jelas bukan sebuah kebiasaan. Yups, apalagi disaat aku sedang mengambil jatah cuti seperti ini. Aku biasanya akan bangun sesiaaang mungkin, dan hanya akan terbangun karena edisi cucian kotor. Hehehe , bakat pembantu suka gak tahan melihat pekerjaan menunggu

 Apa yang special hari ini pikirku, iyalah pasti ada sesuatu yang ‘tanpa aku sadari’ begitu special sampai membuat mataku yang biasanya susah bangun ini malah susah untuk tidur lagi.

17.10 tanggal tertulis di hp kecil suamiku. Owh… yaya kami sudah bahas ini sejak kemarin, tapi semua perencanaan stuck karena alasan moneter, standard ya? But it’s okey toh cintaku termuda itupun tidak akan memahami makna keroyalan yang kami ‘akan’ berikan, pun seandainya kami tidak terhalang oleh masalah keuangan.

4 tahun yang lalu, lahir diusiaku yang –menurut aku jauh- lebih matang daripada si sulung. Juga ditengah kondisi ekonomi yang lebih baik. Walalu kemudian kami baru sadar kalau kami telah kehilangan moment selama 2 tahun, dimana ditahun ke-2, tepat dibulan Oktober 2011 kami baru sadar kalau Grace ternyata tuna rungu.

 Ahh, never had a tears for that, ya aku belum pernah menagis, menyesal atau meratapi keadaan si gaor dodak (perusuh dalam bahasa Batak) kecil itu, hehehe.

Always proud of myself, always felt so blessed for Grace and because I always surrounded by supporting family. Maka keadaan Grace tidak pernah menjadi sebuah episode sedih buat aku. Malah lebih ke emosi, karena kita bisa fight and argue for manytimes. Me and Grace, yaks.

emmm..aaah, eerhh, pyuhh…” bahasanya sehari-hari, tapi kami tau apa mau dia. Bahasa tubuhnya, bahasa lisannya sering tidak kami mengerti, tapi bahasa kalbu kami sampai pada tahap berkomunikasi.

Aku juga sering tidak paham menjelaskanya, tapi kami tau apa keinginananya bahkan sampai saat suaranya makin tak keluar.

Ketertibaan-nya, lebih ke perfectionist menurut aku, walau sempat kami duga parts of autism, (anak-anak tuna rungu seringkali memiliki dwi-tuna) sering membuatnya emosional dan marah-marah.

Bagaimana kami tau dia marah? Ah gampang sekali, dari seringai HULK-nya, hahaha. Ya, effect the Avenger sangat mendominasi gaya marahnya sekarang. Kalau dulu lebih ke tantrum. Tapi seakarang dia selalu berekpresi dengan kemarahanya.

Kesukaanya berbagi –mengingatkan pada gaya Kaleb- ketika melakukan hal yang disukai dia akan pastikan kami juga memperhatikanya. Caranya? Ya dia biacara dengan bahasa planetnya –begitu aku dan suami mengistilahkan bahasa Grace-.  “Au, ehh, beuhh” yang jelas semua komunikasinya biasa disertai dengan gerakan tubuh.

What is the most amazing of Grace?? Tidak ada, dia hanya anak ke-3 ku yang “kebetulan” tuna rungu. All of my kids are amazing for me. Grace hanya sedikit lebih istimewa, karena butuh kesabaran (dan banyak orang tau aku butuh ekstra kekuatan untuk sabar, hehehe) untuk berkomunikasi dengannya.

Dan juga butuh banyak cerita kemanapun aku pergi soal kondisi Grace. Karena kemanapun aku pergi atau ber-acara, dalam hitungan menit orang pasti geleng-geleng melihat aktifitas Grace. Tanpa maksud meminta dikasihani, aku spontan akan selalu bilang “she can’t hear, and I don’t bring the stuff now”… aku hanya berharap mereka mengerti. Grace tidak nakal, dia hanya ekpresive-atractive

Mostly anak-anak seperti Grace sulit memahami konsep bahaya, jangan, nanti dan batasan-batasan lainnya. Biasanya (kata therapist-nya) usialah yang akan mematangkan pemikiran mereka mengenai konsep JANGAN.

So before the dawn breaking in the morning, mommy wanna says : Happy 4 years Grace Mona Rachaellea Siregar. Jesus bless you,, You are the best thing in my life!!!

Rabu, 09 Oktober 2013

Wish I could... run



“Dan loe ikut lari?” tanya teman aku  meragu demi status aku yang baru.




Hmmm, aku nyengir pahit penuh kejujuran dan keculasan… hahaha, No I am not. Yeah, walaupun aku rajin mengompori anak dan suami aku untuk lari dan lari, aku sendiri―sesungguhnya―belum juga lari sampai hari ini. Sebenarnya engga bisa dibilang TIDAK 100% juga loh, 2 kali sempat nyoba lari muter dari kampong aku sampai pasar terkenal itu (katanya sih sekitar 3K-an lah) juga pernah muter-muter lapangan yang isunya jarak itu “cuman” sekitar 1K aja. Aku pernah nyoba kok #sambil berwajah melas. 


But I don’t know why the feeling always same. Tulang kering aku nyeri!! Serius deh, tiap kali lari bukanya naik betis atau sekelan (aku gak tau bahasa benernya sekelan ini apa) pokonya ini adalah rasa dimana paha atau betis terasa seperti keganjel oleh gundu dan agak berat digerakan. Males khan?? That’s why aku belum bisa  ikutan lari secara ‘profesional’, ogah dong jadi pelari paling buntut padahal muka sportif… hayaaaa gayak kali pun cakap aku ini. Hehehe…



Sebenarnya ini bukan masalah malas semata, tapi entah kenapa kaki aku memang masih berat aja memulai langkah untuk lari. Padahal jauh sebelum kenalan dengan Ajang Lari May waktu itu, aku dan suami memang sudah berkali-kali ‘berkomitmen’ bahwa kalau aku mau kurus―engga berasa gendut sih, cuma sedikit melebar, hehehe―tidak boleh dengan cara diet tapi haruslah olahraga. Dan olahraga pilihannya―yang pastinya gratis, gampang, memungkin, kapan saja bisa―ya lari, so sesungguhnya kalaupun aku lari, itu bukan ikut-ikutan tapi GOAL, my 2013 resolution  in 2012. Gila, keren banget khan resolusi perempuan muda seperti akohh #ada yang berasa mau muntah kah?? kwkwkw―pingin sehat dengan olah raga ―.




Faktanya, iya aku mau kurusss (siapa yang gak mau??) tapi ya… kok terasa sulit mengaplikasikan keinginan itu dengan tindakan nyata, taela khan…  karena pada kenyataanya aku belum juga lari, iya pernah (as above tag) tapi mengingat lari adalah salah satu resolusi 2013 aku menuju sehat (baca: langsing, hihihi) kok rasanya NOL Besar yaa… I’ve tried nothing actually. Owhh.



Ikutan-ikutan digroup itu, apdet berita terbaru semuanya demi status “manajer” aku doangan, padahal (aku kira) mereka (akan) mengira―by the way, did they realize that I am exist?? Derita baru jangan-jangan― aku adalah salah satu runner… padahal, Upss.



Wish I could FLY eh RUN… :p  


I am a manager




Gue latah dengan olahraga karena suami gue suka olahraga, dan indahnya si Jane kecil karena terbiasa dibawa si Papa ke sasana ikutan kesengsem dengan dunia olahraga dengan sendirinya. Maka kelas 4 SD dia sudah minta ikutan latihan tinju, tapi baru dikelas 6 SD kita kasih dia ijin untuk latihan serius.

Sejak menjejakkan kaki di bangku SMP otak anak muda itu seperti tercuci oleh dunia  teenagers. Blash!! hilang semua semangat olahraganya. Nguap, bener-bener nguap tanpa sisa, bisa dibilang 98% dia tidak mau lagi latihan dengan tertib, dan gue sebagai promotor yang emosional menyerah untuk memaksa dia berlatih. Lalu 2%nya?? Ya terpaksa latihan juga setelah gue ngomel-ngomel, maksa juga sih.  Kwkwkw…



May 2013, tanpa sengaja ngebuka link lari 5K dan 10K yang disponsorin oleh sebuah bank ternama  di Jakarta. Begini awalnya kenapa bisa nyasar ke lari. Kata papa; lari itu sangat penting buat manjang-manjangin nafas sebagai seorang petinju, nasihat si tante (pelatih di sasana); ya sudah, kalau Jane masih sibuk dan gak bisa latihan minimal lari itu harus, staminanya jangan sampai turun. Lari aja kalau emang gak sempat latihan. Lari,,, si tante highlight banget sama LARI.

Maka demikianlah awalnya gue menjodohkan Jane dengan dunia pe-lari-an (halaah, apa sih :p). Selain itu, gue sih secara pribadi  berharap lari membangkitkan semangat jiwa kompetisinya, dia gak mau kalah sama orang lain, secara lari tuh kan rame-rame dan yang pasti lagi latihan lari untuk mempertahankan staminanya tetap bagus untuk dunia ring dan yang gak kalah penting lagi, bakal banyak kawan-kawan baru #ide mama ini mah, hehehe...

Kata si  Papa waktu itu, Jane belum bisa dilepas sendiri dan Kaleb belum cukup umur. Jadi ke-ikutsertaan papa di Lomba Lari 5K&10K ini pada mulanya adalah sebagai tendem aja supaya Jane lebih PD dan gak parno sendirian ikutan lomba.

Faktanya, alkisah jaman dalu kala (kyaaaa…. lebay again) si Papa well known as goods runner, sejak SD sampai SMP dia suka diikut sertakan dibeberapa lomba antar sekolah  dan hasilnya, dia disukai oleh guru olah raga  (*) cerita versi pak Monang. Hihihi…

Selama menikah dan belum kenal internet memang kita beberapa kali cari tau cara ikut lomba lari 5K atau 10K, yang tiap tahun kita lihat spanduknya (setelah acara ekspired) disekitaran Veldrome atau Jalan Pemuda Rawamangun  tapi belum pernah berjodoh.  Suami gue pengen banget menunjukan ke-bisa-annya soal lari. Tapi belum pernah ketemu :(,  jadi  selama selama 13 tahun ini kita buta sama sekali soal kapan, dimana, oleh siapa ada lomba lari. Dan kita pun lupa.

Opss, pernah disekitar tahun 2003 or somehow lah, suami gue ikut lomba lari 10K yang diadakan oleh partai tertentu, tapi karena ke-antahberantah-an info, juga gak jelasnya komunikasi dengan panitia area, suami gue ketinggalan hampir 1 jam. Disamperin kerumah oleh si teman, dikasih nomor dada sekitar 30menit kemudian lalu ngebut menuju start yang sudah mulai dari tadi dan… yups,  lomba itu tidak menjadi ajang apa-apa buat kita.

Sejak kenal dengan lari dibulan May itu, si Papa malah lebih gandrung daripada Jane. Si ABG itu datar banget, flat,  yang ironi-nya lagi Kaleb malah marah dan protes kenapa dia gak diikut sertakan. Antusiaismenya Kaleb luar biasa, ternyata jiwa kompetisi-nya lebih besar dari yang gue duga, maka kemudian gue carilah beberapa kompetisi lari yang memperbolehkan anak usia dibawah 12tahun.


Hebatnya, ajang pertama anak lelaki gue itu―yang selalu gue omelin karena males banget makan itu, yang bodinya krempeng kaya anak Etopia,,, huh kata gue loh― senang banget waktu gue tawarkan lari yang 8K, kelas umum pulak. We miss the students post. Dan dia menyelesaikan rutenya :)

So proud of Kaleb’s spirit, happiness of  papa yang akhirnya punya gelanggang lari (walaupun sedikit menyesali karena stamina sudah sangat beda dari 10 tahun yang lalu)  dan Jane yang punya spot foto baru.. Ohhh my ABG, apa sih selain putuh-putuh…

Then, status baru gue belakangan ini―pastinya after that Mayis a manager  Ceilee... Dimana sebulan sekali gue sedang mengusahakan these my Family Three punya lomba. Rajin-rajin searching internet dan ikutan group buat cari info update. This run is buat senang-senang, berkompetisi  walaupun jujur gue ngarep salah satu dari mereka bisa menang, yeah.. minimal bawa hadiah doorprize kek, hahaha