Gue
latah dengan olahraga karena suami gue suka olahraga, dan indahnya si Jane
kecil karena terbiasa dibawa si Papa ke sasana ikutan kesengsem dengan dunia
olahraga dengan sendirinya. Maka kelas 4 SD dia sudah minta ikutan latihan
tinju, tapi baru dikelas 6 SD kita kasih dia ijin untuk latihan serius.
Sejak
menjejakkan kaki di bangku SMP otak anak muda itu seperti tercuci oleh dunia teenagers.
Blash!! hilang semua semangat
olahraganya. Nguap, bener-bener nguap tanpa sisa, bisa dibilang 98% dia tidak mau
lagi latihan dengan tertib, dan gue sebagai promotor yang emosional menyerah untuk
memaksa dia berlatih. Lalu 2%nya?? Ya terpaksa latihan juga setelah gue
ngomel-ngomel, maksa juga sih. Kwkwkw…
Maka
demikianlah awalnya gue menjodohkan Jane dengan dunia pe-lari-an (halaah, apa
sih :p). Selain itu, gue sih secara pribadi berharap lari membangkitkan semangat jiwa
kompetisinya, dia gak mau kalah sama orang lain, secara lari tuh kan rame-rame
dan yang pasti lagi latihan lari untuk mempertahankan staminanya tetap bagus
untuk dunia ring dan yang gak kalah penting lagi, bakal banyak kawan-kawan baru
#ide mama ini mah, hehehe...
Kata
si Papa waktu itu, Jane belum bisa
dilepas sendiri dan Kaleb belum cukup umur. Jadi ke-ikutsertaan papa di Lomba Lari
5K&10K ini pada mulanya adalah sebagai tendem aja supaya Jane lebih PD dan
gak parno sendirian ikutan lomba.
Faktanya,
alkisah jaman dalu kala (kyaaaa…. lebay again)
si Papa well known as goods runner,
sejak SD sampai SMP dia suka diikut sertakan dibeberapa lomba antar sekolah dan hasilnya, dia disukai oleh guru olah raga (*) cerita versi pak Monang. Hihihi…
Selama
menikah dan belum kenal internet memang kita beberapa kali cari tau cara ikut
lomba lari 5K atau 10K, yang tiap tahun kita lihat spanduknya (setelah acara
ekspired) disekitaran Veldrome atau Jalan Pemuda Rawamangun tapi belum pernah berjodoh. Suami gue pengen banget menunjukan ke-bisa-annya
soal lari. Tapi belum pernah ketemu :(,
jadi selama selama 13 tahun ini kita buta sama
sekali soal kapan, dimana, oleh siapa ada lomba lari. Dan kita pun lupa.
Opss,
pernah disekitar tahun 2003 or somehow
lah, suami gue ikut lomba lari 10K yang diadakan oleh partai tertentu, tapi
karena ke-antahberantah-an info, juga gak jelasnya komunikasi dengan panitia
area, suami gue ketinggalan hampir 1 jam. Disamperin kerumah oleh si teman,
dikasih nomor dada sekitar 30menit kemudian lalu ngebut menuju start yang sudah
mulai dari tadi dan… yups, lomba itu
tidak menjadi ajang apa-apa buat kita.
Sejak
kenal dengan lari dibulan May itu, si Papa malah lebih gandrung daripada Jane.
Si ABG itu datar banget, flat, yang
ironi-nya lagi Kaleb malah marah dan protes kenapa dia gak diikut sertakan.
Antusiaismenya Kaleb luar biasa, ternyata jiwa kompetisi-nya lebih besar dari
yang gue duga, maka kemudian gue carilah beberapa kompetisi lari yang
memperbolehkan anak usia dibawah 12tahun.
Hebatnya,
ajang pertama anak lelaki gue itu―yang selalu gue omelin karena males banget
makan itu, yang bodinya krempeng kaya anak Etopia,,, huh kata gue loh― senang
banget waktu gue tawarkan lari yang 8K, kelas umum pulak. We miss the students post. Dan dia menyelesaikan rutenya :)
So proud of Kaleb’s
spirit, happiness of papa yang akhirnya punya gelanggang lari
(walaupun sedikit menyesali karena stamina sudah sangat beda dari 10 tahun yang
lalu) dan Jane yang punya spot foto baru.. Ohhh my ABG, apa sih selain putuh-putuh…
Then,
status baru gue belakangan ini―pastinya after
that May―is a manager Ceilee...
Dimana sebulan sekali gue sedang mengusahakan these my Family Three punya lomba. Rajin-rajin searching internet dan ikutan group buat cari info update. This run is buat
senang-senang, berkompetisi walaupun
jujur gue ngarep salah satu dari mereka bisa menang, yeah.. minimal bawa hadiah
doorprize kek, hahaha…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar