What
would you do??
Aku sempat meliat thriller acara reality show versi hidden
camera ini di internet, secara internet aku lumayan agak terbatas so
tidak semua video bisa aku buka. Dan kebetulan sekali video kali ini
formatnya bukan you tube juga bukan MP4
atau apalah yang terlalu ‘tinggi kelas’
buat PC aku.
Acara ini ‘menguji’
sisi kemanusian dengan cara yang sangat manusiawi. Artinya tidak seperti acara
buatan Indonesia yang di-plot: ada orang terlihat compang-camping, sakit
banget, miskin banget dan meminta tolong ―dan tidak jarang permintaan tolongnya pun konyol
dan tidak masuk akal―
lalu akan ditest-lah siapakah yang berasa
jatuh iba dengan pemandangan seperti ini.
Yang aku lihat
pagi tadi adalah scene toko kue yang menolak menjual wedding cake ke pasangan lesbian,
seorang tentara Amerika yang membela seorang penjaga toko muslim yang dibully seorang sipil, seorang comic (comedian
yang berdiri, bahasanya baku banget ya, hehehe) yang menguyoni fisik 2 orang
gadis bertubuh agak tambun dan seorang bapak setengah abad-an yang mengandeng
seorang gadis muda, juga video dari Israel dimana pemilik toko seorang Yahudi menolak
menjual kepada orang Arab. That’s all my
PC can caught, karena kemudian PC ku putih bersih tanpa salam
lalu si gambar menghilang.
Aku sih tidak
merasa menjadi manusia paling baik sedunia, none…
but God knows how I’ve tried to never cheat people. Yes, many times I am mad, tapi aku orang yang berusaha untuk tidak
merancangkan hal yang buruk buat orang lain sekalipun aku sangat ingin
melakukanya. That’s why dalam
hitungan menit aku langsung jatuh cinta dengan reality show ini.
But, this is what I mean selama ini. Banyak orang tergila-gila
dengan acara XXX dimana di host-nya
tuh hobby nyela audience dalam kapasitas “becanda”. Secara sebagai manusia normal
(yang juga rakyat kebanyakan) aku sih tidak merasa itu lucu, walaupun kadang
terdengar konyol. Atau ada pula acara musik dimana si host cuka ‘nyablak’ engga jelas, engga berisi dan out of quality. Maka sebagai tontonan
semua umur aku selalu merasa acara ini ‘aneh’ dan nge-bully dengan cara yang halus. But
inilah Indonesia, semua suka yang ‘rame’, semua suka mayoritas dan kebiasaan
(tidak perduli azas kepantasan-nya).
Dimana ada gula
disitu ada semut, dimana dia tenar semua stasiun akan cari nama ini... semua atas nama ‘selera umum’ yang sampai hari
ini aku masih bingung darimanakah indicator
selera ini didapat. Karena aku pastikan aku bukan part of this majority. Rating?
Still don’t get it, ckckck.
Sejak beberapa
tahun lalu aku emoh nonton acara talkshow
malam itu, isinya host yang (terlalu)
sering mencela audiensenya dan memuji-muji (banyak) perempuan cantik para
tamu-tamunya yang (some) we know-lah
status mereka apa dari info-info tainment
itu. Human
is equal mas, masak gara-gara tampang aja kesan-nya si penonton tuh
nyampah banget sedangkan si tamu-tamu yang (sebagian) cuma modal ‘obok-obok’
kelihatan terhormat banget. Fuihhh
#tepok jidat.
Soal acara si musik
itu, opss... from the beginning I know I am
too smart to follow that stupid joking. Tidak pernah, tidak pengen lihat
pulak ―walau
suka amazing ada pula bintang tamunya
yang TE OP PEH―
Yeah, lihat beberapa dapat karmanya
belakangan ini (via TV juga twitter) soal perlunya hati-hati sama mulut.
Mungkin sebagai orang akan bilang yang ngadu berlebihan!! Oh, no no no.…
Ini yang aku liat
di acara WWYD itu, ketika si comics cuma
ngebahas fisik dan segmented hubungan
orang lain (walaupun sebenarnya sih settingan)...
banyak penonton yang merasa tenganggu, marah dan ‘tidak terima’, ini sudah tidak lagi lucu, fisik bukan buat olok-olok semata
apalagi sampai berulang-ulang. It must be
stopped, or leave the program!!!
Juga ketika
penjual toko ogah menjual kepada golongan tertentu, jangan bilang itu hak dia (di Indonesia juga
banyak kost-kost an ‘beragama’, bahkan gadget
pun sempat beragama, fuiihhh…) tidak sedikit buyer yang protest dengan tindakan tersebut. Walaupun show ini tidak diakhiri dengan persahabatan ataupun kemenangan dari si tertindas, aku menyukai cara bagaimana seharusnya ‘memanusiakan
manusia’. Bisa dengan cara
berbicara/protes/menentang sekalipun itu bukan (melulu) urusan kita. Sekalipun
semuanya (seringkali) terlihat sangat normative,
tapi ketika (secara naluri
kemanusiaan) kita sadar itu tidak memposisikan manusia secara pantas dan layak,
you gotta stop it!!
Karena hidup bukan
hanya soal HAK dan kewajiban sahaja. Ada sisi martabat, azasi, toleransi,
tenggang, kepantasan, kearifan lokal dan terutamama HATI NURANI, sebuah lonceng kecil yang ditaruh
Tuhan di relung hati paling dalam untuk menjadi alarm yang menentukan sisi
manusia kita sesungguhnya.
What
would you do???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar