Selasa, 08 Oktober 2013

What would you do?




What would you do??
Aku sempat meliat thriller acara reality show versi hidden camera ini di internet, secara internet  aku lumayan agak  terbatas so tidak semua video bisa aku buka. Dan kebetulan sekali video kali ini formatnya bukan you tube juga bukan MP4 atau apalah yang terlalu  ‘tinggi kelas’ buat PC aku.

Acara ini ‘menguji’ sisi kemanusian dengan cara yang sangat manusiawi. Artinya tidak seperti acara buatan Indonesia yang di-plot: ada orang terlihat compang-camping, sakit banget, miskin banget dan meminta tolong ―dan tidak jarang permintaan tolongnya pun konyol dan tidak masuk akal― lalu akan ditest-lah siapakah  yang berasa jatuh iba dengan pemandangan seperti ini.

Yang aku lihat pagi tadi adalah scene  toko kue yang menolak menjual wedding cake ke pasangan lesbian, seorang tentara Amerika yang membela seorang penjaga toko muslim yang dibully seorang sipil, seorang comic (comedian yang berdiri, bahasanya baku banget ya, hehehe) yang menguyoni fisik 2 orang gadis bertubuh agak tambun dan seorang bapak setengah abad-an yang mengandeng seorang gadis muda, juga video dari Israel dimana pemilik toko seorang Yahudi menolak menjual kepada orang Arab. That’s all my PC can  caught,  karena kemudian PC ku putih bersih tanpa salam lalu si gambar menghilang.

Aku sih tidak merasa menjadi manusia paling baik sedunia, none… but God knows how I’ve tried to never cheat people. Yes, many times I am mad, tapi aku orang yang berusaha untuk tidak merancangkan hal yang buruk buat orang lain sekalipun aku sangat ingin melakukanya. That’s why dalam hitungan menit aku langsung jatuh cinta dengan reality show ini.

But, this is what I mean selama ini. Banyak orang tergila-gila dengan acara XXX dimana di host-nya tuh hobby  nyela audience dalam kapasitas “becanda”. Secara sebagai manusia normal (yang juga rakyat kebanyakan) aku sih tidak merasa itu lucu, walaupun kadang terdengar konyol. Atau ada pula acara musik dimana si host cuka ‘nyablak’ engga jelas, engga berisi dan out of quality. Maka sebagai tontonan semua umur aku selalu merasa acara ini ‘aneh’ dan nge-bully dengan cara yang halus. But inilah Indonesia, semua suka yang ‘rame’, semua suka mayoritas dan kebiasaan (tidak perduli azas kepantasan-nya).

Dimana ada gula disitu ada semut, dimana dia tenar semua stasiun akan cari nama ini...  semua atas nama ‘selera umum’ yang sampai hari ini aku masih bingung darimanakah indicator selera ini didapat. Karena aku pastikan aku bukan part of this majority. Rating? Still don’t get it, ckckck.

Sejak beberapa tahun lalu aku emoh nonton acara talkshow malam itu, isinya host yang (terlalu) sering mencela audiensenya  dan memuji-muji (banyak) perempuan cantik para tamu-tamunya yang (some) we know-lah status mereka apa dari info-info tainment itu. Human is equal mas, masak gara-gara tampang aja kesan-nya si penonton tuh nyampah banget sedangkan si tamu-tamu yang (sebagian) cuma modal ‘obok-obok’ kelihatan terhormat banget. Fuihhh #tepok jidat.

Soal acara si musik itu, opss... from the beginning I know I am too smart to follow that stupid joking. Tidak pernah, tidak pengen lihat pulak ―walau suka amazing ada pula bintang tamunya yang TE OP PEH―  Yeah, lihat beberapa dapat karmanya belakangan ini (via TV juga twitter) soal perlunya hati-hati sama mulut. Mungkin sebagai orang akan bilang yang ngadu berlebihan!! Oh, no no no.…

Ini yang aku liat di acara WWYD itu, ketika si comics cuma ngebahas fisik dan segmented hubungan orang lain (walaupun sebenarnya sih settingan)... banyak penonton yang merasa tenganggu, marah dan ‘tidak terima’,  ini sudah tidak lagi  lucu, fisik bukan buat olok-olok semata apalagi sampai berulang-ulang. It must be stopped, or leave the program!!!

Juga ketika penjual toko ogah menjual kepada golongan tertentu,  jangan bilang itu hak dia (di Indonesia juga banyak  kost-kost an ‘beragama’,  bahkan gadget pun sempat beragama, fuiihhh…) tidak sedikit buyer yang protest dengan tindakan tersebut. Walaupun show ini tidak diakhiri dengan persahabatan ataupun kemenangan dari si tertindas,  aku menyukai cara bagaimana seharusnya ‘memanusiakan manusia’. Bisa  dengan cara berbicara/protes/menentang sekalipun itu bukan (melulu) urusan kita. Sekalipun semuanya (seringkali) terlihat sangat normative,  tapi ketika (secara naluri kemanusiaan) kita sadar itu tidak memposisikan manusia secara pantas dan layak, you gotta stop it!!  

Karena hidup bukan hanya soal HAK dan kewajiban sahaja. Ada sisi martabat, azasi, toleransi, tenggang, kepantasan, kearifan lokal dan terutamama  HATI NURANI, sebuah lonceng kecil yang ditaruh Tuhan di relung hati paling dalam untuk menjadi alarm yang menentukan sisi manusia kita sesungguhnya.

What would you do??? 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar