Saya menatap kertas itu lamat-lamat. Segan membacanya dengan
benar dan tidak ingin pula memperhatikan setiap detilnya. Sesaat ketika
menerimanya perasan saya terasa emosional, ada rasa malu, kalah, terhina,
pasrah yang tidak iklas tapi yang jelas sisi rebel saya memberang, dan
lagi-lagi “tapi,” saya tidak punya pilihan atau tepatnya seperti diposisikan
untuk menerima saja, saya merasa seperti
terdakwa yang sudah kehilang ‘azas praduga tak bersalah’. For absolute I am guilty, dan saya tidak berminat untuk coba
membela diri.
Bilakah perkara ini akan diajukan atas dasar pekerjaan,
sampai matipun saya akan mengangkangi semua ‘tuduhan’ itu, tapi ketika
disudutkan dengan kata ‘etika’ saya terdiam dalam sejuta hening. Lagi-lagi saya
dihadang dengan kata etika dan sopan-santun. Saya tidak mau membela diri dengan
membalas kalau saya sudah BERUSAHA sopan, tidak mau, sekali lagi saya tidak mau membela diri.
Ketika batasan sopan dipertemukan dengan tradisi dan kultur “kebiasaan”,
saya pastikan saya salah. Jika istilah sopan dilihat dari tradisi memandang
stata saya akan kalah lagi, karena saya tidak terbiasa membatasi manusia dengan
kotak buatan, jika kesopanan adalah menjaga image
dengan sandiwara bukan kejujuran hati maka sekali lagi dan lagi-lagi saya akan
kalah. Karena buat saya mata, suara, hati dan sikap adalah satu paket hidup.
Gugusan ini seharusnya hidup!!
Saya tidak akan bilang saya benar, tapi saya juga tidak akan
bilang saya tidak salah. Anda bisa bilang ini kesombongan, tapi saya hanya mau mempertanggung jawabkan kata-kata saya bukan
penafsiran anda. Ketika masa sekolah,
kita diajarkan untuk tidak memebalas perlakuan teman yang tidak benar,
kita diajarkan untuk mengadu pada bapak dan ibu Guru, ketika dirumah tanpa ada
aturan tertulis ketika ketidak nyamanan menghadang kita akan mencari orang tua
sebagai sandaran. Dan buat saya, ini simple
dan logika sekali. Ketika pekerjaan terasa begitu menghimpit dan saya tahu ini (seharusnya)
bukan beban saya seorang, maka kemanakah seharusnya saya berkeluh kesah??
Sedikit prinsip saya, saya tidak mau seperti segolongan
teman-teman saya yang tidak terlalu suka dengan Si Kondisi lalu kemudian menjadikanya suatu bahan percakapan yang
tak berkesudahanan setiap hari, membungkusnya dengan tema-tema yang tidak beda dan
serupa, mengulang-ulang komentar tidak bermutu dengan cacian tanpa hilir dan
hulu, tak berawal juga tak berakhir. Itu bukan gaya Mawar!!!
Tapi seharusnya Mawar belajar, this is ordinary world. Ini dunia yang umum, saya seharusnya bangun
dari mimpi-mimpi idealis yang (selalu) tidak realistis dan akan selalu tidak
berimbang. Saya seharusnya bangun dari Dunia Mawar. Saya harus belajar menjadi
bagian dari orang-orang umum yang nyata, saya harus berjalan diantara mereka
dan menjadi seperti mereka. Saya harus memaksa mulut untuk diam dan ikut arus
sekalipun hati saya tertekan, saya seharusnya belajar memakai topeng sesuai
dengan strata rekan dihadapan saya,
saya seharusnya memasang senyum dengan kaku dan menunduk dengan keanggunan zombie dan mematikan hati dalam porsi idealisme.
This is ordinary world
Mawar!! dunia tidak mau tau hatimu, dunia tidak perduli masalahmu, dunia tidak
mau tau kebenaranmu. Dunia hanya mengenal kelompok kebanyakan, dunia hanya tau ‘keanggunan’
tidak perduli itu semu, dunia tidak perlu tau kebenaranmu, dunia hanya tahu
kebenaran dalam tingkatan tertentu. Dan Mawar jauh dari tingkatan itu…
36 minggu, selama itu saya mengandung anak pertama saya.
Tepat 9 bulan tanpa ada kelebihan sehari-pun. Dan sekalipun pengalaman itu rasanya
luar biasa, ada hari-hari dimana saya merasa lelah dan bosan. Tapi kemudian
buahnya luar biasa.
9 bulan lamanya, 36 minggu, sekitar 275-an hari, sampai
disuatu bulan ditahun yang akan datang saya harus melalui ini semua. Sejujurnya
saya merasa seperti terjebak dalam permainan puzzle raksasa yang menakutkan,
seperti masuk dalam labirin kaca yang menyeringai dengan intimidasi gambar
diri. Rasanya ambigu, getir dan dingin. Semua
rasa membaur dalam kegamangan.
Perasaan saya mendesir, semua ini seperti menambah kepekatan
sisi ruang hati saya yang masih abu-abu, “waktu itu” seperti menambah koleksi kegagalan
saya.
Ah Mawar, if you just shut up your mind!!


Curcol ya... just be yourself . just take it or leave it.. does it . So many job seekers out there and you must be grateful for what you have ,whatever the situation is... Cemungudd Mawar !!
BalasHapus