Rabu, 02 Oktober 2013

Shut up your mind !!!






Saya menatap kertas itu lamat-lamat. Segan membacanya dengan benar dan tidak ingin pula memperhatikan setiap detilnya. Sesaat ketika menerimanya perasan saya terasa emosional, ada rasa malu, kalah, terhina, pasrah yang tidak iklas tapi yang jelas sisi rebel saya memberang, dan lagi-lagi “tapi,” saya tidak punya pilihan atau tepatnya seperti diposisikan untuk  menerima saja, saya merasa seperti terdakwa yang sudah kehilang ‘azas praduga tak bersalah’. For absolute I am guilty, dan saya tidak berminat untuk coba membela diri.

Bilakah perkara ini akan diajukan atas dasar pekerjaan, sampai matipun saya akan mengangkangi semua ‘tuduhan’ itu, tapi ketika disudutkan dengan kata ‘etika’ saya terdiam dalam sejuta hening. Lagi-lagi saya dihadang dengan kata etika dan sopan-santun. Saya tidak mau membela diri dengan membalas kalau saya sudah BERUSAHA sopan, tidak mau, sekali lagi saya tidak  mau membela diri.

Ketika batasan sopan dipertemukan dengan tradisi dan kultur “kebiasaan”, saya pastikan saya salah. Jika istilah sopan dilihat dari tradisi memandang stata saya akan kalah lagi, karena saya tidak terbiasa membatasi manusia dengan kotak buatan, jika kesopanan adalah menjaga image dengan sandiwara bukan kejujuran hati maka sekali lagi dan lagi-lagi saya akan kalah. Karena buat saya mata, suara, hati dan sikap adalah satu paket hidup. Gugusan ini seharusnya hidup!!


Saya tidak akan bilang saya benar, tapi saya juga tidak akan bilang saya tidak salah. Anda bisa bilang ini kesombongan, tapi saya hanya mau mempertanggung jawabkan kata-kata saya bukan penafsiran anda. Ketika masa sekolah,  kita diajarkan untuk tidak memebalas perlakuan teman yang tidak benar, kita diajarkan untuk mengadu pada bapak dan ibu Guru, ketika dirumah tanpa ada aturan tertulis ketika ketidak nyamanan menghadang kita akan mencari orang tua sebagai sandaran. Dan buat saya, ini simple dan logika sekali. Ketika pekerjaan terasa begitu menghimpit dan saya tahu ini (seharusnya) bukan beban saya seorang, maka kemanakah seharusnya saya berkeluh kesah??

Sedikit prinsip saya, saya tidak mau seperti segolongan teman-teman saya yang tidak terlalu suka dengan Si Kondisi lalu kemudian menjadikanya suatu bahan percakapan yang tak berkesudahanan setiap hari, membungkusnya dengan tema-tema yang tidak beda dan serupa, mengulang-ulang komentar tidak bermutu dengan cacian tanpa hilir dan hulu, tak berawal juga tak berakhir. Itu bukan gaya Mawar!!!

Tapi seharusnya Mawar belajar, this is ordinary world. Ini dunia yang umum, saya seharusnya bangun dari mimpi-mimpi idealis yang (selalu) tidak realistis dan akan selalu tidak berimbang. Saya seharusnya bangun dari Dunia Mawar. Saya harus belajar menjadi bagian dari orang-orang umum yang nyata, saya harus berjalan diantara mereka dan menjadi seperti mereka. Saya harus memaksa mulut untuk diam dan ikut arus sekalipun hati saya tertekan, saya seharusnya belajar memakai topeng sesuai dengan strata rekan dihadapan saya, saya seharusnya memasang senyum dengan kaku dan menunduk dengan keanggunan zombie dan mematikan hati dalam porsi idealisme. 

This is ordinary world Mawar!! dunia tidak mau tau hatimu, dunia tidak perduli masalahmu, dunia tidak mau tau kebenaranmu. Dunia hanya mengenal kelompok kebanyakan, dunia hanya tau ‘keanggunan’ tidak perduli itu semu, dunia tidak perlu tau kebenaranmu, dunia hanya tahu kebenaran dalam tingkatan tertentu. Dan Mawar jauh dari tingkatan itu…

36 minggu, selama itu saya mengandung anak pertama saya. Tepat 9 bulan tanpa ada kelebihan sehari-pun. Dan sekalipun pengalaman itu rasanya luar biasa, ada hari-hari dimana saya merasa lelah dan bosan. Tapi kemudian buahnya luar biasa. 

9 bulan lamanya, 36 minggu, sekitar 275-an hari, sampai disuatu bulan ditahun yang akan datang saya harus melalui ini semua. Sejujurnya saya merasa seperti terjebak dalam permainan puzzle raksasa yang menakutkan, seperti masuk dalam labirin kaca yang menyeringai dengan intimidasi gambar diri.  Rasanya ambigu, getir dan dingin. Semua rasa membaur dalam kegamangan. 


Perasaan saya mendesir, semua ini seperti menambah kepekatan sisi ruang hati saya yang masih abu-abu, “waktu itu” seperti menambah koleksi kegagalan saya.  

Ah Mawar, if you just shut up your mind!!      
      

1 komentar:

  1. Curcol ya... just be yourself . just take it or leave it.. does it . So many job seekers out there and you must be grateful for what you have ,whatever the situation is... Cemungudd Mawar !!

    BalasHapus