Selasa, 17 September 2013

The Hijacker




AAAARRGGGGGHHHHHHHH,,,, teriak gue dalam hati, bagaimanapun juga sedikit geraman itu terdengar pelan. Grace menunjukan gigi-giginya dengan garang, mulutnya membentuk  ‘I’ dengan lucu, kedua lengannya menyiku dengan kepalan tangan didada. She just become Hulk, dan gue menggeram karena keki… 

CD The Avengers masuk lagi ke CD player untuk yang kesekian kalinya, “sejuta kali” begitu gue memakai bahas hiperbola  dengan malas. Ya ya ya, gue sebenarnya termasuk yang selamat dari  “terpaksa harus” menonton The Avengers ini untuk  keseratus kalinya  (lah tadi sejuta, hehehe… namanya juga bahasa lebay ya suka-suka  khan :)). 

Gue baru nonton CD ini 5 kali, dengan list:  1 kali nonton niat, yaitu waktu baru beli nih kaset  -bajakan sih, hehehe-, ke-2 waktu Kaleb masih kesengsem dengan parah tokoh The Marvel itu dan mendetail kecanggihan tiap jagoannya, ke 3 dan ke 4 adalah “Grace new habbit”. Yang ke 3 sih gue tinggal tidur siang, tapi yang ke 4 terpaksa nonton (Dilema TV cuman satu,, huhuhu) dan kelima nemenin sodara yang “numpang” nonton gara-gara si papa masang ini CD demi Grace yang  bertingkah kaya cacing kepanasan karena kedatangan teman.

Setiap pulang kerja –dimulai sekitar seminggu atau 2 minggu yang lalu lah, mulailah Grace mencintai tokoh-tokoh ciptaan Hollywood ini- gue selalu mendapati TV sedang ON dengan film The Avengers.  And you what is the most NO surprise nya. “Ini CD dari pagi kagak ganti-ganti” lapor si Abang, si Papa dan Si oppung bilang, “gak bisa aku nonton Tipi”…

What!!! Argghhhhh gue tepok jidat sambil geleng-geleng. Padahal lately Grace lagi addict sama TV merk G++. So  saluran TV harus yang berlabel G++ baru dia akan tenang, kalau yang lain dia gak akan berhenti merusuh. Dan sekarang, ting-nong…  kami sekeluarga di setrap oleh The Avengers .. Ohh Goshh, setelah si  Busa Kuning Bob sebelumnya dan drama anak-anak di prime time keluarga… Huh,,

But then,, kadung lekat dengan gambaran para tokoh ini, walau kagum  gue mau sekaligus  mengkoreksi film keren ini. Yups, Hollywood not that perfect sodara-sodara!!  

Pertama dan mostly buat gue adalah,  paling gak setuju sama penokohan  Scarlet Johansen sebagai  Black Widow. Owh come on,  angkat kaki deh yang bilang dia cucok.. hehehe, isn’t she is  to kiyut buat jadi jagoan.  Yaelahh, bibir seksi, body kecil, mata bagus…  kayanya doi lebih cocok jadi tokoh Geisha atau penari-penari bar ala Merlyn Monroe ketimbang jagoan.  Dah gitu pulak, wajahnya terlalu teduh,  gak ada sinis atau galak-galaknya sistik joss,, hahaha. So di scene dia mukul para penjahat  waktu dia diinterogasi menurut gue kelewat maksa dan gak pantezzz, badan sekecil dan cantik gitu,, plis dehh.. intinya, this black widow too much drama. Menurut Mawar loh, kalu gak setuju ya gak papa lah :) 

Lalu gue suka dengan penokohan Captain America yang bijaksana dan old fashion itu, ya gimana ya Chris Evan emang ganteng  dari sonoh-nya, so biarpun rambutnya dibuat jadul gitu tetep aja gue ngeliat dia kaya esmod-esmod masa kini.  Keren and sekseh. Sedikit tambahan, mengingat dan menimbang kecakepannya  Chris Evan ini, seandainya ada film Sex and the City versi cowok, gue akan  mereferensi karakternya  buat jadi  sosok  Carry (tokoh utama). Berarti namanya jadi Carroy donk. Hehehe.

Si sombong Iron Man, koq agak-agak bokis ya menurut gue masa cowok sesombong, sekaya dan seganteng  Tony Starks kesengsem and mati kutu sama sekretarisnya seorang  Peper Potts  teaa.. Isshh, mari menyala  Come On manselayaknya ada  gambaran  perempuan-perempuan sosialita yang cantik en tengil-tengil bertaburan  disekeliling  manusia baju baja merah  ini, and yeah.. you know what I mean reader :)

Mr. Thor, nothing special lah, rambutnya, matanya, penokohannya sesuai ajah menurut gue.

Si Barton, I love the cynical and fierce eyes-nya itu loh. Emang sih dia gak ganteng-ganteng amat tapi sorot matanya yang dalem itu bikin dia cocok banget jadi tokoh  jagoan, Si Mata Rajawali namanya.

Dan tokoh favorite gue dan ternyata eh tenyata (judi itu haram, hehehe… :P)  samaan ama si Geges adalah Hulk, si mahluk hijau besar yang kalau marah bisa nakutin.  Penokohan si Hulk di The Avengers  ini menurut gue lebih mendekati film kartunya yang udah gua liat sejak SD. Hulk yang  galak banget, jago banget dan gak pake ampun. Dimana semakin dia tersakiti dia akan mangkin jago.  Agak beda sama Hulk 1 dan Hulk 2 versi movie single-nya, terlalu sweet dan mellow. Most of all, gue suka mukanya Bruce Banner yang manusiawi dan looks humble banget. Sangat cucok menjadi seorang dokter yang merakyat dipojokan kota kumuh India. Ya dong, gak kebayang khan muka gantengnya si Chris Evan masuk kampung jadi dokter yang merakyat … aissh palsu!!

Badewey, suka juga ngerasa jadi Hulk dech. Yeah,,, ketika rasa marah mulai gak terkontrol dan nakutin orang lain, padahal hati gak maksud begitu berasa punya hati Cinderella saat ini.  Menurut gue penokohan dan kisah Hulk adalah paling manusiawi. Dia gak pengen jadi  the other man, begitu Bruce Benner menyebut sisi lainnya  atau the Green man, but then  it’s just come. Ketika dia gak bisa mengkontrol emosinya :(

Lalu gue tarik anonym buat gue, seandainya punya kadar  sabar yang sedikit lebih dan bisa menahan kemarahan lebih lagi, mungkin nasib gue akan beda atau mungkin perjalanan hidup gue ada sedikit perbedaan dari sekarang. Tapi hidup berjalan, dan banyak hal  out of my control,  yes actually it out of  my control even though  under  my known. Karena banyak hal terjadi yang gue tau, tapi ternyata diluar control gue. Oh. 



Hhhmm , kenapa jadi mellow gini sih, intinya gue mau nulis betapa tersiksanya hari-hari tanpa media audio visual dirumah. Bisa nonton sih actually, tapi kalau tiba-tiba  The Avengers’ addict-nya kumat, ya kita harus ngalah sama Grace.  YES!!  We hijacked by The Avengers  through Grace… 

Arggggg, berasa jadi Hulk trus nampol temen disamping, salah satu adegan favorit Grace/Kaleb dan gue (juga…) waktu Hulk meninju Thor. Hehehe.
  
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar