Menurut gue perjalan dengan menggunakan Kereta Api
itu punya makna yg sangat dalam dan personal buat gue pribadi, lagian juga
sebenernya sih soal si per-kereta apian- ini bukanlah hal baru buat gue. Lemme’ tell you my story :-).
15 tahun yang lalu di pertengahan 1998 gue pernah ngerasain kerja jadi buruh di daerah per-pabrikan Cikarang sana dan merasakan naik KA Ekonomi. KA yang sumpek, kotor dan yang paling nyebelin adalah skejulnya yang tight banget. Waktu itu KA jurusan Cikarang dari stasiun Kelender─belakangan gue jadi tahu, stasiun gue itu disebut Klender Lama, karena kemudian ada yang namanya stasiun Kelender Baru (gue sih sukanya bilang stasiun Pondok Kopi)─ cuman ada sejam sekali, dimana kalau kita telat gara-gara sepersekian detikkk, oalaaa... Selamat bersenang-senang deh, karena sebagai gantinya gue WAJIB naik bus yang gak kalah sumpeknya, dan pastinya jauh lebih lama, dan lebih mahal pulak.
15 tahun yang lalu di pertengahan 1998 gue pernah ngerasain kerja jadi buruh di daerah per-pabrikan Cikarang sana dan merasakan naik KA Ekonomi. KA yang sumpek, kotor dan yang paling nyebelin adalah skejulnya yang tight banget. Waktu itu KA jurusan Cikarang dari stasiun Kelender─belakangan gue jadi tahu, stasiun gue itu disebut Klender Lama, karena kemudian ada yang namanya stasiun Kelender Baru (gue sih sukanya bilang stasiun Pondok Kopi)─ cuman ada sejam sekali, dimana kalau kita telat gara-gara sepersekian detikkk, oalaaa... Selamat bersenang-senang deh, karena sebagai gantinya gue WAJIB naik bus yang gak kalah sumpeknya, dan pastinya jauh lebih lama, dan lebih mahal pulak.

Lalu tahun 2010, gue ngerasain lagi naik KA Ekonomi menuju Kota. Yaps, kali ini level udah agak naikan dikit lah, gue kerja sebagai setap di daerah Pluit. Ceritanya, masih naik KA Ekonomi yang sumpek dan bercampur sama para pedagang dipasar. Kalu pedagang kain masih mendingan dikiiit, tapi gak jarang kita naik barengan sama kambing dan sayuran segunung, hehehe.
Iya, gue engga ada maksud untuk blaming
para pedagang itu koq, wajar lah kalau mereka juga milih naik KA, selain
cepetnya yang pasti banget ya murahnya itu bow. Kebayang dong, bawa barang
segambreng ongkos cuma seribu rupiah. Syukur-syukur
kalu mau beli tiket, khan banyak juga tuh penumpang gelap yang sampai hari ini gue
masih engga paham, kenapa ada penumpang yang tega 'nilep' si serebu perak itu,
padahal kita kan udah di-cepetin banget sama si KA ini. But sedikit bahasa sok-nya,
gue cuma bisa bilang; yeah, orang Indonesia man!!
Kereta Api tahun di 2010 itu masih juga padet det, masih banyak yg ektrim, mulai dari ‘naik’ asal nempel di segala body kereta, naik diatap KA, duduk dipintu yg tidak ditutup, gelaran tiker/koran dilantai, duduk pake dudukan lipat bahkan banyak yang bawa jengkok juga (jengkok/jongkokan: dudukan dari plastik atau kayu yg biasa gue pake buat nyuci baju/piring sambil jongkok). Bahasa Indonesianya apa ya?? Hehehe
Kereta Api tahun di 2010 itu masih juga padet det, masih banyak yg ektrim, mulai dari ‘naik’ asal nempel di segala body kereta, naik diatap KA, duduk dipintu yg tidak ditutup, gelaran tiker/koran dilantai, duduk pake dudukan lipat bahkan banyak yang bawa jengkok juga (jengkok/jongkokan: dudukan dari plastik atau kayu yg biasa gue pake buat nyuci baju/piring sambil jongkok). Bahasa Indonesianya apa ya?? Hehehe
Jadwalnya juga masih ganggu, tapi gak separah 12 tahun sebelumnya, dimana jadwal KA itu sejam sekali. Tahun 2010 ini jadwal paginya lumayan bersahabat cuma beda biayanya ampun-ampun dech, bayangkan gue biasa naik KA Ekonomi yang jam 6.30 pagi dengan ongkos seribu rupiah. Di jam 7 kurang dikit ada AC Ekonomi dengan harga tiket 4500 dan di jam 7 lebih kalau bener-bener kesiangan (pernah gue ngalamin naik 1x) ada kereta AC Express dengan harga tiket 9000. Cekidot, 1000, 4500 dan 9000... please dech, walaupun kenyamanannya emang ‘gak dusta’ cukup mengerti dong kenapa si Ekonomi ini tetap jadi idola kami (gue-lah) sebagai pekerja.
Ditahun
2014, kembali gue berjodoh dengan si “hitam yang selalu diantriin”. Jaman ini
KA udah gak hitam pun tapi putih malahan banyak gambar-gambarnya. Yang pertama
gue highlight adalah skejulnya, teringat masa lalu
dimana jadwal kereta itu momok yang nakutin (gak pake ampun) gue agak-agak
senyum puas dikit lah. Skejul berjarak sekitar 15-20 menit aja, semua harga
tiket sama, sudah terintegrasi pula, so
kalu gue mau menuju daerah mana tinggal turun dimana dan sesuaikan (kalau jaman
dulu khan beda banget, harus menuju ke stasiun mana gitu untuk mencapai stasiun sesuai ‘rute’nya) males dech :-(.
Sesungguhnya
sebelum fix naik KA ini gue udah
banyak ‘berguru’ dulu dengan teman-teman yang menurut stalking-an gue juga naik KA ke kantornya. Dan walau agak kagok
dihari pertama, segera gue merasa cukup gagah dan mampu beradaptasi koq.
Yaelaaa sok bingits, hahaha.
Kereta
Api sekarang menurut gue agak lebih manusiawi, gak ada kelas-kelas-an, berAC
semua (sebagaian sebenarnya cuma kipas gede sih), gak boleh duduk dilantai, gak
boleh jongkok, gak boleh bawa barang lebih dari sekian-sekian kubik lah, pintu
tertutup dan yang paling win-win solution
menurut gue adalah: semua bayarrrrrr, karena udah pake system e-ticketing maka kita semua wajib beli
tiket. Ya lah, sebagai orang jujur dan takut dosa (walau sedikit agak pelit,
hehehe) gue suka geregetan sama mas-mas tengil yang naik KA dan beruntung dapat
duduk tapi pas turun di stasiun mereka muter lewat belakang karena gak punya
tiket. Gue yang bayar serebu berdiri dibawah ketek orang sambil nahan pinggang puegel (kalau pas berdiri dekat
rombongan yang gelaran tiker/dudukan. Halllaaah makkk.
Back to
2014, untuk menuju kantor di Cideng gue di ajarkan untuk naik KA dari Manggarai
lalu naik yang arah Tanah Abang. Perjuangan dimulai sejak pagi, KA dari Bekasi
menuju Jakarta udah penuh bahkan sejak dari Bekasi-nya. Kebayanglah nasib gue
yang naik di stasiun ke-4. Sudah penuh, padat, ketat, sesak, dan berjejal,
kyaaa... Gak sampe berapa hari gue
langsung belajar tehnik masuk KA yang sudah padat dengan cara ‘menyempil’
dengan mendorong pantat. And I guess, i
did it already, hehehe #ini kisah nyata bow :-)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar