Mungkin karena dibesarkan oleh keluarga
yang cuek membuat saya sering
“gamang” menghadapi masalah. Iya memang saya tidak besar dikeluarga yang sering
memuji apalagi “membela” hak pribadi malahan kami sering dituntut dengan
kewajiban. Bahkan sedari kecil, makanya setiap kali ada masalah saya sering
kali merasa bahwa mesti ada yang salah, mesti saya bikin salah :(
Kebiasaan ini terbawa sampai saya besar,
dewasa, bahkan punya 3 anak. Dan sampai
hari ini saya masih berjuang untuk melihat masalah itu sebagai satu bagian dari
perjalanan bukan melulu karena kesalahan. Dan kemudian perjalanan hidup
mengajar saya untuk melihat banyak sisi dari sebuah kegagalan. Ini bukan melulu
soal salah dan benar. Suami saya sering kali mendebat saya─atau
mengajarkan sebenarnya─ketika saya mulai bergulat dengan emosional karena
kegagalan dan kemarahan yang selalu saya hubungkan dengan ‘adanya’ kesalahan. Karena
ada kesalahan makanya ada kegagalan.
“Memang harus begini dek, gak ada yang
salah,” begitu nasihat si papa setiap kali.
“Kamu gak salah,aku gak salah, engga harus
selalu salah. Memang harus kayak gini” tekannya berkali-kali dan berkali-kali
pula walaupun diam saya tidak pernah bisa menerima ini sebagai takdir,
mesti ada yang salah, begitu analogi saya selalu.
Untuk kesekian kalinya ‘tudingan’ salah itu
kembali saya terima dengan pahit. Padahal kali ini saya sedang tidak
memikirkannya. Walau diam hati saya kecut dengan semua tudingan kesalahan itu.
Tapi apa dinyana, saya memang selalu merasa layak disalahkan. Apalagi jika
berhadapan dengan mental-mental melayu asli. I am a drop deadman.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat
merasa kehilangan harga diri dan gagal luar biasa mengahadapi si sulung yang
mulai ABG. Sulit diajak bicara, mulai menutup diri, agak arogant dan menantang (dengan matanya). Saya merasa gagal sebagai
ibu, saya merasa suami saya terlalu lembek, saya merasa kualat karena waktu ABG
saya juga merasa pembangkang.
Saya merasa ada yang salah dengan sistem
mendidik kami, saya merasa mesti ada yang kurang dalam cara saya atau suami.
Sampai suatu hari saya melihat sebuah film di TV, dan ada tokoh ABG yang mulai
sering bertengkar dengan sang ibu. Kemudian saya tersadar, kalimat diadegan itu
begitu ringkas menggambarkan semua kelakuan si anak yang menurut saya sama
dengan pengalama saya dengan si kakak: puberty.
Yeah, mostly anak puber, ABG, SMP-an
punya karakteristik yang sama. Whats’s
wrong with me?? It’s just a pattern.
Waktu saya gagal untuk kesekian kalinya
dalam sebuah interview (walaupun sesungguhnya ada beberapa yang memang yang
tolak karena alasan financial), saya merasa ada yang salah. Belum lagi input
teman yang ikutan ‘memastikan’ saya bikin salah, kembali saya gusar dan merepet
pada suami. Kenapa bisa dia tidak ‘ngeh
kalau ada yang salah dengan penampilan saya, karena katanya saya terlihat
pendiam, juga katanya saya dekil dan aahh.. khan saya jalan sama suami,
SEHARUSNYA DIA TAU DONG!!. “Belum jalan
Tuhan dek” kata suami dengan bijak. Basii balas saya dalam hati. Walau tidak
terlalu kecewa dengan hasil, sangat kecewa dengan ‘kesalahan’ saya. Kenapa sih
saya mesti salah!!!
Lalu hari itu saya ‘nemu’ kalimat
sembarangan antara dua front yang
sedang bertransaksi, “Kalau kita jodoh, nanti pembayaranya seperti ina-ini”
katanya. Saya agak terpicing, “ya abis gimana bu, biar dikejar kaya apa kalau
gak jodoh ya gak jadi. Nah makanya bu mudah-mudahan kita jodoh” kata si penjual
ini lalu diamini si pembeli. Yaps, jodoh
or milik bukan sesuatu yang bisa
diatur atau paksakan toh. Hmm, saya terpekur sendiri... What’s wrong with me?? salah baju sayakah, salah kalimat sayakah,
salah peralatan make-up saya yang murahan kah? Lalu saya merumuskan polanya; Kita gak jodoh atau belum jodohkah? Bukan
rencana Tuhan, kata lebih religiusnya.
Waktu tau Grace bermasalah, saya sempat
dikejar oleh pikiran-pikiran bersalah. Pasti saya ada kesalahan fatal makanya
saya dikutuk dan ditertawakan oleh nasib. Saya sempat merasa terlempar ke ruang
rendah diri, merasakan dicibir. Tapi dalam perjalanan, saya melihat,
orang-orang yang “sikap”nya jauh lebih
baik dan santun dari saya keluar masuk RS, anak-anak dari orang tua yang taat
beragama bergulat dengan kehidupan yang tidak semulus cara ibadahnya. “Lalu
mereka kenapa??” kalimat itu mengejar saya balik.
Saya tau, saya memang sering membuat
kesalahan. Ada saat dimana kesalahan itu tidak bisa saya hindari, atau bahkan
saya yang membuatnya, tapi bukan berati setiap kegagalan adalah konsekwensi
sebuah kesalahan. Dan saya harus membangun puing-puing kepercayaan diri akan
hal ini. Saya berjuang untuk melatih diri bahwa tidak semua tragedi tarjadi
karena upah kesalahan. Banyak hal yang
terjadi memang bagian dari episode hidup, proses pembelajaran dan takdir Ilahi.
Dan saya menemukan quote yang menguatkan saya
ini, paling tidak quote ini membantu
saya untuk menyadari bahwa hidup memang seringkali begini adanya...
Yes
i’ve made mistakes beause life didn’t come with instruction.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar