Selasa, 17 Juni 2014

Yes I've made mistakes



Mungkin karena dibesarkan oleh keluarga yang cuek membuat saya sering “gamang” menghadapi masalah. Iya memang saya tidak besar dikeluarga yang sering memuji apalagi “membela” hak pribadi malahan kami sering dituntut dengan kewajiban. Bahkan sedari kecil, makanya setiap kali ada masalah saya sering kali merasa bahwa mesti ada yang salah, mesti saya bikin salah :(

Kebiasaan ini terbawa sampai saya besar, dewasa, bahkan punya 3 anak.  Dan sampai hari ini saya masih berjuang untuk melihat masalah itu sebagai satu bagian dari perjalanan bukan melulu karena kesalahan. Dan kemudian perjalanan hidup mengajar saya untuk melihat banyak sisi dari sebuah kegagalan. Ini bukan melulu soal salah dan benar. Suami saya sering kali mendebat saya─atau mengajarkan sebenarnya─ketika saya mulai bergulat dengan emosional karena kegagalan dan kemarahan yang selalu saya hubungkan dengan ‘adanya’ kesalahan. Karena ada kesalahan makanya ada kegagalan.

 “Memang harus begini dek, gak ada yang salah,” begitu nasihat si papa setiap kali.
“Kamu gak salah,aku gak salah, engga harus selalu salah. Memang harus kayak gini” tekannya berkali-kali dan berkali-kali pula walaupun diam saya tidak pernah bisa menerima ini sebagai takdir, mesti ada yang salah, begitu analogi saya selalu.


Untuk kesekian kalinya ‘tudingan’ salah itu kembali saya terima dengan pahit. Padahal kali ini saya sedang tidak memikirkannya. Walau diam hati saya kecut dengan semua tudingan kesalahan itu. Tapi apa dinyana, saya memang selalu merasa layak disalahkan. Apalagi jika berhadapan dengan mental-mental melayu asli. I am a drop deadman.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat merasa kehilangan harga diri dan gagal luar biasa mengahadapi si sulung yang mulai ABG. Sulit diajak bicara, mulai menutup diri, agak arogant dan menantang (dengan matanya). Saya merasa gagal sebagai ibu, saya merasa suami saya terlalu lembek, saya merasa kualat karena waktu ABG saya juga merasa pembangkang. 


Saya merasa ada yang salah dengan sistem mendidik kami, saya merasa mesti ada yang kurang dalam cara saya atau suami. Sampai suatu hari saya melihat sebuah film di TV, dan ada tokoh ABG yang mulai sering bertengkar dengan sang ibu. Kemudian saya tersadar, kalimat diadegan itu begitu ringkas menggambarkan semua kelakuan si anak yang menurut saya sama dengan pengalama saya dengan si kakak: puberty. Yeah, mostly anak puber, ABG, SMP-an punya karakteristik yang sama. Whats’s wrong with me?? It’s just a pattern.

Waktu saya gagal untuk kesekian kalinya dalam sebuah interview (walaupun sesungguhnya ada beberapa yang memang yang tolak karena alasan financial), saya merasa ada yang salah. Belum lagi input teman yang ikutan ‘memastikan’ saya bikin salah, kembali saya gusar dan merepet pada suami. Kenapa bisa dia tidak ‘ngeh kalau ada yang salah dengan penampilan saya, karena katanya saya terlihat pendiam, juga katanya saya dekil dan aahh.. khan saya jalan sama suami, SEHARUSNYA DIA TAU DONG!!.  “Belum jalan Tuhan dek” kata suami dengan bijak. Basii balas saya dalam hati. Walau tidak terlalu kecewa dengan hasil, sangat kecewa dengan ‘kesalahan’ saya. Kenapa sih saya mesti salah!!!

Lalu hari itu saya ‘nemu’ kalimat sembarangan antara dua front yang sedang bertransaksi, “Kalau kita jodoh, nanti pembayaranya seperti ina-ini” katanya. Saya agak terpicing, “ya abis gimana bu, biar dikejar kaya apa kalau gak jodoh ya gak jadi. Nah makanya bu mudah-mudahan kita jodoh” kata si penjual ini lalu diamini si pembeli.  Yaps, jodoh or milik bukan sesuatu yang bisa diatur atau paksakan toh. Hmm, saya terpekur sendiri... What’s wrong with me?? salah baju sayakah, salah kalimat sayakah, salah peralatan make-up saya yang murahan kah? Lalu saya merumuskan polanya;  Kita gak jodoh atau belum jodohkah? Bukan rencana Tuhan, kata lebih religiusnya.

Waktu tau Grace bermasalah, saya sempat dikejar oleh pikiran-pikiran bersalah. Pasti saya ada kesalahan fatal makanya saya dikutuk dan ditertawakan oleh nasib. Saya sempat merasa terlempar ke ruang rendah diri, merasakan dicibir. Tapi dalam perjalanan, saya melihat, orang-orang yang  “sikap”nya jauh lebih baik dan santun dari saya keluar masuk RS, anak-anak dari orang tua yang taat beragama bergulat dengan kehidupan yang tidak semulus cara ibadahnya. “Lalu mereka kenapa??” kalimat itu mengejar saya balik.

Saya tau, saya memang sering membuat kesalahan. Ada saat dimana kesalahan itu tidak bisa saya hindari, atau bahkan saya yang membuatnya, tapi bukan berati setiap kegagalan adalah konsekwensi sebuah kesalahan. Dan saya harus membangun puing-puing kepercayaan diri akan hal ini. Saya berjuang untuk melatih diri bahwa tidak semua tragedi tarjadi karena upah kesalahan.  Banyak hal yang terjadi memang bagian dari episode hidup, proses pembelajaran dan takdir Ilahi. Dan saya menemukan  quote  yang menguatkan saya ini, paling tidak quote ini membantu saya untuk menyadari bahwa hidup memang seringkali begini adanya...  

Yes i’ve made mistakes beause life didn’t  come with instruction.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar