Aku menunduk menatap nanar
lantai kosong yang putih. Tidak kelihatan ada apa-apa disana, lantai keramik ukuran
30x30cm yang putih. Putih dan bersih seperti biasanya. Pasti cepat terlihat
kalau ada kotoran, bahkan biasanya—maksudku, pernah— ketika anjing kami sakit kutuan,
kami bahkan bisa menemukan seekor bayi kutu berjalan, padahal ukurannya hanya
sebesar sebutir pasir saja.
Lantai itu benar-benar bersih
tidak ada apa-apa. Tapi perasaanku, sepertinya sepotong hati telah tumpah dilantai
saat ini. Sebentuk perasaan yang jatuh berantakan, hancur dan ini lebih dari
sekedar kata berkeping-keping.
Seperti orang gila aku menyapu
seliap sudut lantai dengan tangan, seperti aku biasa mencampur deterjen bubuk dan
deterjen cair lalu mengaduknya, aku terus coba mengacak lantai, mencarinya dan menyapu dengan seksama. Aku sedang memastikan,
aku bisa menemukan tiap serpihan hatiku yang hancur dilantai itu.
Aku masih menatap lantai.
Rasanya kalut, dada bergetar, hati sedingin es. Airmata tidak juga mau berhenti, padahal hidungku sudah
terlalu penuh dengan cairan kental yang tertahan. Tanganku bergetar dalam
pencarian itu, setiap jarum jam berdetak dadaku semakin sesak, seperti ada
jutaan ton besi berkarat usang yang mengimpit
dada. Sesak, bau, menakutkan dan entah jika ada kata lain yang melebihi dari
kata “tidak nyaman.”
Sembari tanganku mencoba
menjalin pecahan-pecahan hati yang hancur dan terlanjur remuk, mataku sejurus
menatap kalenderan. Kalenderan tahun sekarang, 2012. Tahun yang sedang aku
lalui, tahun yang seharusnya sedang dalam proses untuk ditinggalkan.
Tapi untuk saat ini, ingin rasanya aku masuk ke dalam arus putaran
waktu. Masuk dalam masa kalenderan, sangat ingin rasanya masuk lebih dalam, lebih jauh lagi,
jauh lagi dan tinggal disuatu masa,
ditahun yang telah lalu. Disebuah tahun yang masih abu-abu dalam ingatanku.
Ditahun dimana aku telah
diperdaya oleh sebongkah kepercayaan. Aku yang telah dibodohi oleh wajah
kejujuran. Aku yang tersesat dalam
permainan nasib. Aku yang dipecundangi triplek-triplek dan sekat antara pintu
dan pintu. Aku yang sesungguhnya berdiri sebuah sisi saja padahal aku kira aku
adalah bagian dari kedua sisinya.
Disuatu masa antara hitam dan
putih. Aku hanya tau itu memang sudah lalu, tapi ternyata aku baru tahu kalau banyak
babak-babak yang terlepaskan dari mataku. Ada episode-episode pendek yang
panjang yang seharusnya aku sadari adalah
bagianku, tapi tak juga kusadari.
Lantai tidak memberikan jawab
apa-apa. Aku masih sibuk memebenahi kepingan hati yang terburai dilantai dengan airmata dan
penyesalan. Kemudian aku mencoba menatap langit, mencari pembelaan diatas sana,
berharap ada pantulan alur cerita yang ditinggalakan masa lalu untuk aku lihat hari
ini. Tidak ada apa-apa disana…
Kutatap sekelilingku, lantai
putih. Masih putih. Hatiku sudah terbentuk lagi, tapi belum sempurna. Serpihan yang
hilang berhambur belum semuanya terhimpun. Kutatap lemari disebelahku, saksi
bagaimana sebuah kisah masa lalu akan mengubah masa depan. Saksi bagaimana aku
menyadari bahwa cinta dan kepercayaan ternyata mempunyai jalannya
masing-masing. Dalam segala kepedihan aku masih berharap semuanya akan menjadi
lebih baik.
Ah, andai bisa aku katakan… ”mirror-mirror on the wall, show me what did
I done wrong to through it all…”
atau “Tuhan kenapa ‘waktu’ nya begitu jauhh”… Ah, kuletakan kepala diatas
bantal, pipiku masih terus hangat oleh
air mata, aku mau menutup hari dengan tidur dan berharap besok semuanya akan
baik-baik saja.
Besoknya, aku mau lekas-lekas
malam dan kembali berbaring dipetiduran. Bermimpi saja dan begitu seterusnya.
Berharap Tuhan akan membelaku melawan luka dengan waktu, waktu yang aku mau
lebih cepat dari biasanya.
Akhirnya, aku tersandung juga
melawan paradigmanku selama ini. Ternyata… cinta memang menyakitkan, cinta bisa
memaksaku untuk bertahan, cinta telah menahan mulutku untuk berteriak, cinta sudah
menjajahku untuk tetap berharap dalam keragu-raguan. Cinta memaksaku untuk menelan harga diri dalam
kesakitan yang teramat sangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar