Selasa, 15 Mei 2012

Because I love You,,,


Aku menunduk menatap nanar lantai kosong yang putih. Tidak kelihatan ada apa-apa disana, lantai keramik ukuran 30x30cm yang putih. Putih dan bersih seperti biasanya. Pasti cepat terlihat kalau ada kotoran, bahkan biasanya—maksudku, pernah— ketika anjing kami sakit kutuan, kami bahkan bisa menemukan seekor bayi kutu berjalan, padahal ukurannya hanya sebesar sebutir pasir saja.

Lantai itu benar-benar bersih tidak ada apa-apa. Tapi perasaanku, sepertinya sepotong hati telah tumpah dilantai saat ini. Sebentuk perasaan yang jatuh berantakan, hancur dan ini lebih dari sekedar kata berkeping-keping.

Seperti orang gila aku menyapu seliap sudut lantai dengan tangan, seperti  aku biasa mencampur deterjen bubuk dan deterjen cair lalu mengaduknya, aku terus coba mengacak lantai, mencarinya dan  menyapu dengan seksama. Aku sedang memastikan, aku bisa menemukan tiap serpihan hatiku yang hancur dilantai itu.

Aku masih menatap lantai. Rasanya kalut, dada bergetar, hati sedingin es. Airmata tidak  juga mau berhenti, padahal hidungku sudah terlalu penuh dengan cairan kental yang tertahan. Tanganku bergetar dalam pencarian itu, setiap jarum jam berdetak dadaku semakin sesak, seperti ada jutaan ton besi berkarat  usang yang mengimpit dada. Sesak, bau, menakutkan dan entah jika ada kata lain yang melebihi dari kata  “tidak nyaman.”

Sembari tanganku mencoba menjalin pecahan-pecahan hati yang hancur dan terlanjur remuk, mataku sejurus menatap kalenderan. Kalenderan tahun sekarang, 2012. Tahun yang sedang aku lalui, tahun yang seharusnya sedang dalam proses untuk ditinggalkan.

Tapi untuk saat ini,  ingin rasanya aku masuk ke dalam arus putaran waktu. Masuk dalam masa kalenderan, sangat ingin  rasanya masuk lebih dalam, lebih jauh lagi, jauh lagi dan  tinggal disuatu masa, ditahun yang telah lalu. Disebuah tahun yang masih abu-abu dalam ingatanku.

Ditahun dimana aku telah diperdaya oleh sebongkah kepercayaan. Aku yang telah dibodohi oleh wajah kejujuran.  Aku yang tersesat dalam permainan nasib. Aku yang dipecundangi triplek-triplek dan sekat antara pintu dan pintu. Aku yang sesungguhnya berdiri sebuah sisi saja padahal aku kira aku adalah bagian dari kedua sisinya.

Disuatu masa antara hitam dan putih. Aku hanya tau itu memang sudah lalu, tapi ternyata aku baru tahu kalau banyak babak-babak yang terlepaskan dari mataku. Ada episode-episode pendek yang panjang  yang seharusnya aku sadari adalah bagianku, tapi tak juga kusadari.

Lantai tidak memberikan jawab apa-apa. Aku masih sibuk memebenahi kepingan hati yang  terburai dilantai dengan airmata dan penyesalan. Kemudian aku mencoba menatap langit, mencari pembelaan diatas sana, berharap ada pantulan alur cerita  yang  ditinggalakan masa lalu untuk aku lihat hari ini. Tidak ada apa-apa disana…

Kutatap sekelilingku, lantai putih. Masih putih. Hatiku sudah terbentuk lagi, tapi belum sempurna. Serpihan yang hilang berhambur belum semuanya terhimpun. Kutatap lemari disebelahku, saksi bagaimana sebuah kisah masa lalu akan mengubah masa depan. Saksi bagaimana aku menyadari bahwa cinta dan kepercayaan ternyata mempunyai jalannya masing-masing. Dalam segala kepedihan aku masih berharap semuanya akan menjadi lebih baik.

Fuiih, kupaksa menarik nafas senyaman mungkin, senyaman pelukan yang biasa aku dapat. Kuusap airmata dengan penuh harapan, secerah binar cinta yang biasa menatap aku. Kuangkat kepala dengan penuh kepercayaan, percaya bahwa aku berharga, percaya bahwa cinta itu akan membangunkan aku dari sakit yang mendera ini. Kuangkat tangan dan merobek-robek bayang-bayang nakal yang terus menari diatas kepalaku.

Ah, andai bisa aku katakan… ”mirror-mirror on the wall, show me what did I done wrong to through it all atau “Tuhan kenapa ‘waktu’ nya begitu jauhh”… Ah, kuletakan kepala diatas bantal, pipiku  masih terus hangat oleh air mata, aku mau menutup hari dengan tidur dan berharap besok semuanya akan baik-baik saja.

Besoknya, aku mau lekas-lekas malam dan kembali berbaring dipetiduran. Bermimpi saja dan begitu seterusnya. Berharap Tuhan akan membelaku melawan luka dengan waktu, waktu yang aku mau lebih cepat dari biasanya.

Akhirnya, aku tersandung juga melawan paradigmanku selama ini. Ternyata… cinta memang menyakitkan, cinta bisa memaksaku untuk bertahan, cinta telah menahan mulutku untuk berteriak, cinta sudah menjajahku untuk tetap berharap dalam keragu-raguan.  Cinta memaksaku untuk menelan harga diri dalam kesakitan yang teramat sangat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar