Sebagai penyuka
makanan berat―maksud saya, bukan batu dan sejenis logam lho― :p. Tapi penikmat
makanan kelas karbohidrat dan protein tinggi, yang menurut para ahli jika
kebanyakan dikonsumsi akan mengakibatkan banyak efek samping. Saya rasa mereka
salah besar, karena sesungguhnya semua kandungan makanan itu bukan cuma menyebabkan
efek samping, tapi lebih ke efek melebar dan membengkak, hehehe.
Bicara soal makanan,
saya suka amazing sama komentar teman-teman
atau orang yang saya kenal mengenai ‘rasa’ suatu makanan. Misalnya; eh loe dah
nyobain soto ini belum, hmm… asli enak banget. Atau, cape dikit dech loe ke
sana belok kiri terus samping ono ada tukang nasi yang sop-nya rasanya beda, juga… wah, pokoknya loe bakal ketagihan setelah makan
ini, hmm… dijamin bebeknya si XXX paling top, atau garingnya ayam si ini beda
dech.
Hmm, again and again… sebagai seorang pelahap
segala makanan, saya gak akan bilang kalau omongan mereka salah. Engga lah,
sama sekali engga… karena saya orang yang bakal ikutan melahap habis semua
jenis makanan yang ‘katanya’ enak BANGET itu.
But ―iya saya tau, level saya belum
sampai di lidahnya pak Bondan yang maknyuss
itu sih―tapi buat lidah seorang Mawar yang masih punya tasty Batak (saya suka pedas dan asin), maka kebanyakan makan itu
buat saya, standard kok, biasa banget!!
Cuma standard aja? Yess, why? because my mother in law cooks better then
them. Absoloutely.
Sebenarnya gak
seindah itu juga urusan per-dapur-an saya dengan my MIL ini. Saya memang masih berselera pada asin dan pedas ala Batak,
tapi santan dan bumbu dapur saya gak terlalu suka. 20-tahun an bertetangga
dengan halak ion di Jakarta, bikin
saya familiar dengan masakan manis,
rebusan dan juga sayur mentah.
So, sering dengan ‘tidak’ tau
dirinya saya suka komplen ketika makanan yang tersaji adalah Sumatera food banget, dengan santal kentan dan bumbu dapur
yang super medok serta harum daun-daunan dapur yang semerbak. Saya merasa terganggu
dengan kandungannya itu, but she means all
about good taste.
Semakin banyak
bergaul, baik didunia kerja dan dunia lainya (hantu dong, hehehe). Saya makin sering
wisata kuliner. Makin banyak pula dengar komen beberapa teman tentang tempat makan atau jenis makanan yang menurut bahasa
mereka, “enak banget”, “beda dech”, “sedap”, “uenakkk”, “suedap”, “krenyes-krenyes”,
“harum”, “gurih” dan apalah lagi, yang
kalau saya denger ‘iklan’ mereka rasanya saya bakan makan 2 porsi kuli panggul.
Ketika makanan
tersedia dan selesai terlahap, kebanyakan dari menu makanan berat yang katanya
‘yummy’ ini kemudian bikin saya bilang, “owh, segitu doang”. Lalu saya jadi
bingung sendiri, yang dimaksud ‘uenaakk bangetnya’ itu bagian mananya ya? kok
rasanya masakan yang jauh lebih enak
dari ini sudah sering saya nikmati. Malah saya komplen. *ngumpet dibalik meja
makan, hehehe.
Buat saya, sampai hari
ini belum ada tempat makan makanan Indonesia ‘biasa’ yang kelezatan—nya bisa
bikin saya bilang, “ it’s better than
masakan Oppung Juntak”. Hmm, not yet. :p

Tidak ada komentar:
Posting Komentar