Aku
berusaha keras untuk menahan mata dari berair. Menahan degup jantung dari
jutaan buncah dan haru yang saling mendesak di dada. Di sebuah ibadah pernikahan
sederhana yang sakral dan penuh dengan aura
cinta.
Ketika
kedua pasang mata itu bersapa, nampak jelas gejolak hasrat muda yang masih
berapi-api. Aku seperti bisa merasakan jutaan bunga cinta yang berhambur lewat
sinar mata mereka. Pula genggaman erat kedua tangan bergairah itu, penuh dengan
kepercayaan diri. Seperti saling menguatkan pasanganya bahwa segala sesuatunya
akan baik-baik saja.
Pemandangan
ini seperti mempertontonkan my runaway wedding
13 tahun yang lalu. Tapi kali ini dengan tokoh central yang tertukar. Jika 13
tahun yang lalu keluargaku yang bersikukuh untuk menolak laki-laki pasangan
hidupku, maka hari ini aku melihat bagaimana keluarga perempuan ‘berusaha’ mempersiapkan
escaping groom ini demi perjalanan cinta
kedua anak muda itu.
Cerita
lebih berbeda lagi dikarenakan kedua
keluarga ini juga bukan keluarga sembarangan—secara kacamata ekonomi—.Karena
keluarga dengan latar belakang seperti ini, sudah dipastikan akan mengadakan
resepsi pernikahan digedung dengan kapasitas 500-1000 orang tamu. Keluarga ‘model’
begini biasa memepertontonkan ‘derajat’ keluarga dengan kemewahan pesta
pernikahan yang akan membuat orang berdecak kagum.
Tapi
pagi itu May 6th 2012, Seperti sebuah pernikahan 13 tahun
yang lalu… yang aku lihat hanyalah…
Bunga
pernikahan… every bride will need it,
even when you are in a simple concept of wedding party.
Bless, berkat dari tangan orang yang
mewakili Tuhan dimuka bumi ini. Pilihan harus dilakukan… dan peneguhan ini
harus datang dari orang yang tepat.
Ring, cincin yang tak berujung dan tak berpangkal,
melambangkan pernikahan yang memang tidak boleh diakhiri oleh manusia. Tidak
ada episode yang boleh terputus dalam hubungan pernikahan.
And most of all, commitment. Janji Nikah. Sumpah dihadapan Tuhan. 2 orang
yang berdiri dan berikrar dialtar kudus demi sebuah janji yang tidak boleh
lekang oleh massa.
I will love you forever and ever, in sickness
and in health, in richness and in poor, in every season of life, till death do
us a apart.
Kalimat
ini begitu sayup diantara 6th May 2012 dengan 13 tahun yang lalu.
Sumpah yang sama:
"Saya
menerima-mu menjadi pendamping hidup saya. Dihadapan Tuhan saya berjanji, akan
selalu menerima-mu baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sakit maupun
sehat, baik dalam kelimpahan maupun kemiskinan. Sampai kematian memisahkan kita".



Tidak ada komentar:
Posting Komentar