Senin, 07 Mei 2012

Early May 2012

May 6th 2012,
Aku berusaha keras untuk menahan mata dari berair. Menahan degup jantung dari jutaan buncah dan haru yang saling mendesak di dada. Di sebuah ibadah pernikahan sederhana yang sakral dan  penuh dengan aura cinta.

Ketika kedua pasang mata itu bersapa, nampak jelas gejolak hasrat muda yang masih berapi-api. Aku seperti bisa merasakan jutaan bunga cinta yang berhambur lewat sinar mata mereka. Pula genggaman erat kedua tangan bergairah itu, penuh dengan kepercayaan diri. Seperti saling menguatkan pasanganya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.


Pemandangan ini seperti mempertontonkan my runaway wedding 13 tahun yang lalu. Tapi kali ini dengan tokoh central yang tertukar. Jika 13 tahun yang lalu keluargaku yang bersikukuh untuk menolak laki-laki pasangan hidupku, maka hari ini aku melihat bagaimana keluarga perempuan ‘berusaha’ mempersiapkan escaping groom ini demi perjalanan cinta kedua anak muda itu.

Cerita  lebih berbeda lagi dikarenakan kedua keluarga ini juga bukan keluarga sembarangan—secara kacamata ekonomi—.Karena keluarga dengan latar belakang seperti ini, sudah dipastikan akan mengadakan resepsi pernikahan digedung dengan kapasitas 500-1000 orang tamu. Keluarga ‘model’ begini biasa memepertontonkan ‘derajat’ keluarga dengan kemewahan pesta pernikahan yang akan membuat orang berdecak kagum.

Tapi  pagi itu May 6th  2012, Seperti sebuah pernikahan 13 tahun yang lalu… yang aku lihat hanyalah…


Bunga pernikahan… every bride will need it, even when you are in a simple concept of wedding party.


Bless, berkat dari tangan orang yang mewakili Tuhan dimuka bumi ini. Pilihan harus dilakukan… dan peneguhan ini harus datang dari orang yang tepat.   



Ring, cincin yang tak berujung dan tak berpangkal, melambangkan pernikahan yang memang tidak boleh diakhiri oleh manusia. Tidak ada episode yang boleh terputus dalam hubungan pernikahan.

And most of all, commitment. Janji Nikah. Sumpah dihadapan Tuhan. 2 orang yang berdiri dan berikrar dialtar kudus demi sebuah janji yang tidak boleh lekang oleh massa.

I will love you forever and ever, in sickness and in health, in richness and in poor, in every season of life, till death do us a apart.


Kalimat ini begitu sayup diantara 6th May 2012 dengan 13 tahun yang lalu. Sumpah yang sama:
"Saya menerima-mu menjadi pendamping hidup saya. Dihadapan Tuhan saya berjanji, akan selalu menerima-mu baik dalam keadaan susah  maupun senang, dalam keadaan sakit maupun sehat, baik dalam kelimpahan maupun kemiskinan. Sampai kematian memisahkan kita".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar